Selasa, 24 Juni 2014

'Hujan Tanpa Tanda'



"...... Dalam kesedihan dan kearifanmu, waktu adalah teman yang baik. Dulu sekali, aku matahari dan kau hujan.Pertemuan kita melahirkan pelangi, melukis tiga warna cerah bianglala yang melengkung di cakrawala. Ketika itu disore yang basah, selepas hujan yang tak disangka tumpah memberi kejutan bagi kemarau panjang......" Kini, setiap kali gerimis jatuh. Rintik-rintik.Satu-satu. Aku hanya bisa mengenangmu. Menatap hujan dari balik bingkai jendela kaca. Mencari-cari dirimu di luar sana. Ah, sudahlah... Semua sudah usai sejak dulu, kisah kita sudah berlalu di hembus angin masa lalu. Ya, masa lalu yang masih jahiliyah. Aku belum di tegurNya kala itu, namun saat hidayahNya memanggilku untuk benar-benar patuh. Aku memilih menjaga maruah diri dengan menjauh. Dan akhirnya sekarang semuanya benar-benar hilang. Kau tanpa jejakku, aku tanpa jejakmu. Janji manisNya telah kau dapati. Hatimu dan hati lelaki yang bukan aku telah menyandingmu lebih dulu. Dan aku, masih setia akrab dengan sunyi.Sendiri. Tunggu sebentar ! Kalau boleh kuceritakan padamu,  entah mengapa sekarang aku ingin kembali menjadi matahari. Sebab aku kembali mengenal seseorang yang sikapnya seperti hujan. Tapi kau tahu kan ?! Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu di masa lalu. Diam dan menjaga jarak tetap kujadikan tameng penjaga hati, sebelum DIA meridhoi. Apalagiii.... ia nya seseorang yang hanya bisa ku temui di lini masa. Tanpa bicara, tanpa bersua serta tanpa tegur sapa nyata. Namun sejak dulu sikap hati memang tak pernah berubah. Hati tetap tak pernah perduli pada jarak, tak perduli pada ruang dan waktu untuk membentuk kedekatan. Walau ada jarak yang membentang jauh. Kali ini aku bertutur bukan tentangmu. Bukan tentang hujan di masa lalu, tapi tentang hujan yang sekarang. Setidaknya begitu menurutku, entah menurut dia..... yang jelas, meskipun pertemuan hujan dan matahari belum menjadi pelangi, tapi aku bisa melihat tiga warna cerah bianglala lewat aksara yang dirangkainya dengan rapi di laman lini masa. Barangkali ini yang di sebut hujan tanpa tanda, tiba-tiba bilik dadaku basah dibuatnya.......

"Tak semua fiksi, tak semua nyata, namun di setiap cerita pasti ada makna tersirat di dalamnya"
-Dwi Ardy Prasadhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar