Jumat, 09 Mei 2014

''Syair Kepergian Nabi "


Syair Kepergian Nabi


Senja itu, di keheningan padang Arafah yang gersang, di desa sepi bernama Namira, Rasul Allah masih saja duduk diatas ontanya Al-Qaswa, memandang umatnya menuju tebing-tebing dan perbukitan. Dalam diam dan kebisuan, angin masih saja bertiup semilir seolah ikut menghantar mereka pulang. Sesekali langkah mereka terhenti dan menoleh ke belakang, seperti tak ingin lepas dari wajah bening Rasul Allah diatas pelana ontanya.

“Ayyuhan nas isma’u qauli, dengarlah kata-kataku, aku tidak tahu apakah setelah hari ini, setelah hari yang suci ini, aku masih bisa bertemu dengan kalian semua. Ingatlah wahai saudaraku, aku tinggalkan kalian dua amanat. Jika kalian pegang erat, kalian pasti selamat dan tak akan tersesat, kitabullah dan sunah Rasul Allah"

Suara sendu di perbukitan itu seolah pertanda, seakan firasat. Dari kejauhan, diatas ontanya Al-Qaswa, Rasul Allah masih saja memandang umatnya, seakan berat melepas kepergian mereka. Sahabat dan pengikutnya perlahan surut dan kemudian pulang kembali ke rumahnya. Abu bakar yang arif tersedu menangis menitikan air mata. Hatinya berdesah dan berbisik, Ya Rasul Allah, benarkah kita tidak akan bertemu lagi?.

Pada suatu malam di padang Baqi, di pekuburan para syahid yang sepi, isyarat dan pertanda itu ditiupkan kembali. Kemudian terdengar suara Rasul Allah lirih,
“Salam sejahtera wahai kalian penghuni kubur. Ingatlah, hari akhir lebih berat pembalasannya dari pada di dunia. Wahai engkau yang sedang terbaring di tanah ini, kami pasti akan bersua dan menyusul kalian disana”

Di hamparan makam Baqi, tanda-tanda itu telah dinampakkan lagi. Demam dan keletihan mulai membalut tubuh Rasul Allah, manusia pilihan tuhan. Dengan berikat kain dikepala, Rasul Allah tertatih-tatih berjalan perlahan, bertopang pada Ali bin Abi Thalib, dituntun oleh Al-Abbas menuju rumah Aisyah. Di pembaringan, tubuh manusia Agung itu panasnya semakin memuncak dan keringat mulai mengucur membasahi wajah dan jubahnya. Di pangkuan Aisyah, Rasul Allah menyandarkan kepalanya. Kemudian terdengar desah suaranya yang lirih bergetar,
“Wahai Aisyah, ketahuilah bahwa malaikat pencabut nyawa telah datang dan berbisik padaku Ya Rasul, Allah Azza wa jalla telah mengutusku dan menyuruhku agar tidak mencabut ruhmu kecuali dengan izinmu. Ya Rasullullah, aku menunggu perintahmu "

 "Tunggulah, tunggulah sampai jibrildatang padaku” pintanya perlahan.
Tak lama kemudian, dalam keheningan bersama desiran angin padang pasir, Jibril datang dihadapan. Suasana terasa demikian syahdu dan semakin mencekam.
“Ya Muhammad, sesungguhnya Allah telah rindu kepadamu.”

“ Wahai Jibril, jangan tinggalkan tempat ini. Temanilah aku saat izrail hendak mencabut ruhku”

Angin padang pasir seakan berhenti bertiup dan memberi tanda duka. Awan seakan memayungi rumah Aisyah yang begitu sederhana. Fatimah, putri kesayangan mencium Ayahanda-nya yang terbaring kelelahan. Wajahnya memendam duka dan kesedihan yang kian mendalam. Dengan perlahan Rasul Allah meraih wajah putri terkasihnya itu, dibisikkannya lagi sesuatu yang membuat ia tersenyum terharu.
“Wahai putri kesayangan Rasul, Apa gerangan yang terjadi?”

“Aku sedih, aku menangis dan menitikan airmata karena ayahanda mengatakan akan kembali kepada Tuhannya. Aku tersenyum karena dibisikkan bahwa akulah yang pertama yang akan menyusul ayahanda”

Di pembaringan, lelaki Agung itu masih saja menegadahkan wajahnya kelangit. Kemudian terdengar suara lirih setengah barbisik, “UMMATI, UMATTI, YA RABB UMATTI"

Dengan wajah memendam duka, Aisyah menarik tubuh lunglai itu kepangkuannya. Dalam keletihan, Rasul Allah membasuh tangannya dan kemudian mengusapkan air ke wajahnya. Diantara desah nafas yang tersendat terdengar doanya lirih,

“Ya Allah, ampunilah dosaku, Rahmatilah aku, pertemukan aku bersama orang yang Engkau beri nikmat, para nabi, Shadikin, Syuhada dan Shalihin. Ya Allah, Ampunilah dosaku, Ampunilah dosaku”

Doa itu semakin lirih dan semakin lirih. Tangan manusia yang Agung yang terkulai itu kian lunglai. Izrail perlahan mendekatinya dan mengucapka salam kepada manusia Agung pilihan Tuhan itu,
“Apa yang engkau perintahkan padaku wahai Muhammad?"

Tersengar suara yang semakin lirih berbisik, “ Al-hiqni bi robbil’an, Al-hiqni birobbil’an! " Pertemukan aku dengan tuhanku sekarang juga, sekarang juga!

Isyarat dan tanda itu semakin mendekat. Diantara keletihan dan kesedihannya, Rasul Allah memandang sendu wajah sahabat-sahabat dan kerabatnya. Dan kemudian bersabda,
" Marhaban bikum, Selamat datang untukmu sekalian. Mudah-mudahan Allah selalu melindungimu dan menolongmu. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari pada-Nya untuk kalian. Ajal telah semakin mendekat dan kembali itu hanya pada Allah, kemudian ke sidratil Muntaha, kemudian ke syurga Al-Ma’wa. "

Manusia Agung yang sedang terbaring keletihan itu seakan tidak rela umatnya kelak akan mendapat nestapa dan tidak ikut melangkah ke syurga bersamanya.
“Wahai Jibril” bisiknya, “Siapkan juga bagi umatku, Sesudahku”

Kemudian, saat Izrail akam mencabut ruhnya, masih juga kekasih Allah itu bertanya kepada Izrail,
“Ya Izrail, Akankah umatku akan mengalami sakitnya sakaratul maut seperti ini?”

Diantara desah nafas yang tersendat, Rasulullah menegadah bermohon lagi kepada Allah,
“Ya Allah, biarlah aku yang merasakan seluruh kepedihan saat sakaratul maut ini Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku. Ringankanlah sakaratul maut untuku matku. Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku, Ya Allah”

Allah segera menjawab pinta doaRasullullah, kekasih-Nya yang gelisah memikirkan umatnya,
“Berilah kabar yang gembira kepada kekasih-KU itu, ya Jibril. Bahwa aku tidak akan menelantarkannya. Aku tidak akan menyengsarakannya. Dan bahwa syurga itu diharamkan atas umat-umat yang lain, sebelum umatnya memasuki syurgaku”

Mendengar janji Allah, cahaya mata yang bening itu kemudian pejam, tertidur dalam keheningan. Dan dalam keabadian untuk selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Pesan Rasulullah, “Uushiikum bis shalati wa maamalakat aimanuku. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Untukmu duhai Nabi, Kami Rinduuuu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar