Sabtu, 24 Mei 2014

Sebuah cerpen "Budi Bocah Karbitan"





Hikayat hidup bukan hanya tentang memasukkan makanan ke dalam mulut atau sekedar bekerja demi mendapat upah. Kita butuh perubahan kearah yang lebih baik, memberi manfaat untuk orang banyak. Peduli terhadap sesama adalah tanda bahwa masih hidupnya nurani di balik dada-dada kita. Lampu merah yang ada di perempatan kota, apa yang kita pikirkan?. Pastinya warna merah tanda untukberhenti. Warna kuning bersiap untuk jalan. Warna hijau untuk segera melanjutkan perjalanan. Tetapi lain hal nya dengan Budi, untuk lampu warna merah, justru ia berjalan menghampiri pengendara d iperempatan kota menawarkan dagangannya. Warna kuning pertanda bersiap untuk berhenti, Warna hijau pertanda ia harus benar-benar berada di tepi jalan dan berhenti menjajakan barang dagangannya. Sangat bertolak belakang dengan para pengendara di jalan, Aku yakin kita pernah menyaksikan ini di jalanan.

Siang itu panas mentari sangat terik. Deru mesin kendaraan, bau debu jalanan siap merusak paru-paru siapa saja menghirupnya. Aku berjalan di trotoar menuju masjid. Alunan syahdu kumandang adzan mengundangku kerumahNya. Bukan hanya aku, tapi semua manusia yang didadanya ada kalimat Laailaahailallah maka wajib memenuhi panggilanNya untuk menunaikan sholat dzuhur. Selepas sholat berjama'ah. Seperti biasa aku melepas penat di teras masjid yang sejuk. Masjid bukan sekedar untuk berteduh dari panas atau hujan, namun juga tempat hati untuk berteduh sebagai pelepas kepenatan.

Di sini berawal perkenalanku dengan Budi, bocah yang umurnya sekitar sepuluh tahun. Diantara deru kendaraan yang lalu-lalang di jalan depan masjid, terdengar gemercik air keran di tempat wudhu. Aku menoleh ke arah suara itu. Hanya beberapa meter dari tempat aku duduk, terlihat seorang bocah, dengan kaos lusuh yang dikenakannya. Wajahnya tergurat lelah dan kumal sebab debu jalanan. Wajah itu kembali segar setelah dibasuh sejuknya air wudhu.

“Assalaamualaikum..” Salam sapaku padanya.

“Wa’alaikumsalam.” balasnya sambil melempar senyum ke arahku.

Dia menuju ke dalam masjid untuk menunaikan sholat dzuhur, hanya sendiri sebab sholat berjama'ah telah selesai beberapa menit yang lalu. Ia pun keluar dari ruang utama masjid, aku kembali membuka percakapan.

“Adik, tinggal dimana?”

“Dari jalan itu terus aja, Bang. Ada rumah kontrakan kecil disitu. Rumah kedua itu rumahku.” Jawabnya dengan logat batak, sambil menunjuk ke arah jalan kecil di sebelah kanan masjid.

“Oh, ya. Namamu siapa?” sembari ku geser dudukku tepat di sebelahnya.

“Budi, Bang. " Kali ini dia tak memandangku, sibuk merapikan barang dagangan yang akan kembali dijajakannya.

Kami bercerita banyak hal siang itu. Aku yang lebih banyak bertanya padanya. Ia hanya sesekali bertanya dan lebih banyak menjawab pertanyaanku. Ketika aku bertanya tentang sekolahnya, ia langsung terdiam. Matanya memandang jauh seakan mengingat sesuatu.

“Aku dulu putus sekolah kelas 4 SD Bang. Beberapa bulan setelah bapakmeninggal, Mamak tak bisa lagi membiayaiku dan adikku sekolah. Kadang aku jadi pedagang asongan, dapat upah dari yang punya barang dagangan ini. Kalau ada kawan yang mengajakku ngamen, ya aku ngamen Bang. Mamak tukang cuci baju dari rumah kerumah. Tapi aku mau adikku bisa tetap sekolah. Makanya sekarang aku kerja apa saja yang aku mampu, untuk bantu biaya adik lanjut sekolah.”

"Adikmu kelas berapa ?"
"Sekarang baru naik kelas 2 bang" ujarnya padaku.

Pandangannya masih menerawang jauh, aku tak tahu pasti apa yang dipikirkannya. Lewat cara ia bertutur tak menunjukkan bahwa usianya masih sepuluh tahun.


***

Angin siang itu mengajak pelepah-pelepah pohon palem berdansa mendayu terhuyung. Suara klakson bersahutan di tengah kemacetan. Seolah tiba-tiba menawarkan irama orkestra yang membuat angin dan pelepah-pelepah pohon palem ditepi jalan terus menari mendayu. Bocah kecil itu , kulihat dari kejauhan. Hilir mudik di tengah kemacetan. Dengan beberapa teman, yang senasib dengannya. Bocah itu Budi, yang kemarin sempat meninggalkan kesan di hatiku hingga hari ini. Beberapa pengendara sempat menghardiknya, ia mengamen di tengah kemacetan. Hardikan itu dibalasnya dengan senyuman. Senyuman itu tak semanis tadi, saat pengendara lain mengeluarkan uang recehan mengisi kantong pelastik yang ia sodorkan. Tapi tetap saja senyum itu berwarna ketulusan. Tak berubah, tetap warna yang sama.Ceria.

Aku berencana, jam makan siang nanti aku ingin mengajaknya makan bersama, walaupun hanya nasi bungkus. Aku ingin mengajak ia makan di teras masjid yang sejuk, tempat kemarin kami berkenalan. Tapi ia tak kunjung datang padahal jama'ah shalat dzuhur sudah bepergian. Terdengar suara gemercik air keran, aku menoleh ke arah tempat wudhu. Sayangnya bukan Budi. Bukan suara gemercik air yang berjatuhan dari wajah kumalnya. Mungkin musafir yang bersinggah untuk menghadiri undanganNya, pikirku dalam diam. Lapar mulai melilit lambungku, kupandangi dua bungkus nasi padang di sebelahku. Tapi ini akan kunikmati bersama Budi, lebih ada rasa syukur jika makan bersamanya.

Aku teringat, jalan kecil di sebelah kanan masjid, masuk ke dalam, disana rumah kontrakan kecil rumah yang kedua adalah rumahku, ucap Budi kemarin. Setelah mencari-cari akhirnya aku berdiri tepat di depan pintu yang keropos disantap rayap sebelah bawahnya. Ini mungkin rumah tempat keluarga Budi mengontrak. Beberapa kali aku mengucap salam akhirnya ada suara membalas dari dalam. Pasti suara Budi pikirku. Daun pintu yang sudah mulai keropos itu terbuka. Kulihat wajahnya tak ada keceriaan, layaknya orang yang menyambut tamu. Kali ini wajahya lebih menunjukkan kecemasan.

“Tadi kau tak ke masjid, dik?”

“Aku tadi shalat di musholla sini, Bang, Aku buru-buru pulang karena Mamakku mendadak sakit. Abang masuklah dulu.”

Tampak seorang wanita separuh baya, tergolek lemas di kasur yang sudah terlihat dekil. Tatapannya, tatapan menahan sakit. Matanya cekung ke dalam, padahal usianya belum lanjut namun kulit legamnya telah keriput.

“Mamak sakit apa, dik?”

“Aku tak tahu, Bang. Selama ini Mamak sudah sakit, tapi masih sanggup untuk kerja. Tapi tadi ia bilang sudah tak sanggup lagi.”

“Oh, ya. Abang bawa nasi, kau sudah makan belum? Makanlah ini, ajak Mamakmu juga.” sambil kusodorkan bungkusan yang kubawa sembari tersenyum ke arah wanita separuh baya itu.

Tangan kecil itu mulai menyuapi ibunya, menyuapi seorang janda beranak dua yang ditinggal mati suaminya. Entah kenapa menyaksikan hal ini, mendadak lilitan lapar di lambungku berlepasan.

Sebenarnya sakit ibunya kambuh sebab tak lagi meminum obat yang biasa dikonsumsinya. Karena uang yang mestinya untuk beli obat, dipakai untuk menambah beli sepatu sekolah adiknya. Begitu Budi menjelaskan padaku sambil makan dan menyuapi ibunya. Kuminta bekas bungkus obat ibunya, segera aku pamit membeli obat di apotek terdekat.

Saat aku kembali dari apotek, seorang gadis kecil telah ada di rumah Budi. Matanya menatapku penasaran. Rambutnya ikal, senyumnya mirip seperti Budi. Aku tak berlama-lama, karena takut mengganggu istirahat ibunya. Setelah bungkusan obat itu kuberikan pada Budi, aku segera pamit pulang.

“Kalau ada apa-apa sama Mamak, kau bilang aja sama abang, ya !” Budi hanya membalas dengan anggukan, sambil mengucap terimakasih padaku. Seharusnya aku yang berterima kasih pada, hari ini pertunjukan nasib hidupnya membuat aku malu sebab seringkali mengeluh.


***

Siang ini di teras masjid sejuk itu yang menjadi tempat hati berteduh. Aku sempat bercengkrama lagi pada Budi. Kondisi ibunya kini telah membaik. Kabar gembira ini disampaikannya padaku dengan wajah sumringah. Pertemuan kami sangat singkat kali ini. Sebab dia harus menjajakan dagangannya. Ia terpaksa harus pecahkan batu-batu keras keadaan, dengan lemah jemari kecilnya mengepal. Terus ku pandangi langkahnya yang semakin hilang. Kurasa ia menuju lampu merah di perempatan jalan. Keaadaan yang memaksanya, memaksa menjadi matang menjalani kehidupan. Seumpama pisang mentah karbitan yang dipaksa agar matang.

Ia tak tahu menjelaskan tentang ketulusan, namun hardikan orang-orang yang dibalasnya dengan senyuman. Disana kulihat jelas ketulusan itu bermekaran. Dia tak tahu untuk menjelaskan tentang kesabaran, namun ia sedang melakoninya dalam kehidupan.

Matanya sayu memandang jauh,dari guratan wajahnya yang kumal tampak jelas keletihannya yang setiap hari harus berkelahi dengan waktu. Banyak mimpinya yang tak terbeli. Semenjak janji manis menjadi barang dagangan yang laris di negri ini. Semakin banyak saja bocah yang bernasib seperti si Budi. Bukan sebab tak ada lagi orang yang mampu memberi, namun sebab matinya nurani, hilang jua rasa peduli.


  S E L E S A I

Tidak ada komentar:

Posting Komentar