Sabtu, 24 Mei 2014

Sebuah Cerpan "Bangku Taman"






*Bangku Taman*
oleh : Dwi Ardy prasadhana.

Perempuan tanpa nama :

Sunyi semakin lirih, di bangku
taman.Di bawah pohon perdu. Angin
berhembus memainkan ujung
kerudungku, desirnya seakan
bersenandung menghibur hati yang
mulai gelisah menanti. Selain
berada di bangku taman ini , aku merasa tak menunggu, ada kerabat yang memberi perhatian hangat atau sahabat yang menyemat semangat. Namun di bangku taman ini aku memilih sendiri lantas
barulah aku tersadar ternyata
bangku taman seakan menjadi bangku di ruang
tunggu, ya... tempat menunggu
daun-daun pohon perdu gugur jatuh
semoga aku sempat membaca sebuah nama yang tertulis dilembar daun yang luruh.
Sebuah nama yang tertulis
dilembar kalam takdirNya. Aku yakin ada yang lebih bijaksana daripada usia, dan dibangku taman kutemukan semua itu,
untuk menjadi dewasa mengamit hikmah dari ketukan waktu yang sudah semestinya
tak di biarkan terlewatkan percuma.
Satu lagi daun perdu gugur jatuh tepat di pangkuanku, bukan sebuah nama yang tertulis diatas lembarannya. Ada obat letih menanti tertulis di lembaran daun yang jatuh " Kau masih di beri kesempatan menperbaiki diri bersabarlah duduk menanti di bangku taman ini".

Lelaki tanpa nama :

  Di bangku taman ini waktu seakan melambat, bukan karena jam tanganku rusak dan putarannya menjadi tersendat. Mungkin bangku taman ini seakan menjadi kursi antrian,
dan aku harus menunggu antrian
sendirian, mugkin karena sendiri
sampai-sampai membuat perasaan
menunggu hingga rasanya waktu
melambat dan beku. Tapi
Sepertinya kali ini pilihan kata yang ku pakai keliru, sebab budaya antri lebih lazimnya menunggu giliran diantara orang banyak dengan berdesakan, tentu tak serupa dengan menunggu di ruang waktu. Namun lain halnya jika aku menunggu di bangku taman, entah ini tempat penantian atau tempat aku berlatih menjadi nahkoda yang kelak memimpin
kemudi sebuah perahu untuk
berlayar menuju syurgaNya, tentunya
bersama seseorang yang namanya tertulis di lembar kalam takdirNya.
Seorang Ibu paruh baya petugas
kebersihan taman datang dengan
membawa sapu . Ia mendekat pada
bangku taman yang jaraknya hanya
selemparan batu dari tempat
dudukku, bangku taman itu tepat di bawah pohon perdu. Aku berlari kecil
menghampiri, berharap daun perdu yang terakhir jatuh tak tersapu oleh si Ibu.Selembar daun yang jatuh segera kuraih sebelum luruh jatuh ke bumi. Ada abjab tersusun rapi : " Lelaki sejati tak membiarkan sepotong hati terlalu lama menanti.
Ia tak mengulur waktu dengan janji
tidak pula terburu-buru dengan
mengumbar bujuk dan rayu namun
ia datang tepat waktu."

Tidak ada komentar:

Posting Komentar