Jumat, 09 Mei 2014

PROLOG sebuah cerpen

 
PROLOG :
  Serangan zionis Israel yang membabi buta delapan hari berturut-turut membombardir tapal batas Gaza. Kini menyisakan puing-puing reruntuhan, benteng utama yang menjadi andalan pertahanan pun telah luluh lantah. Desing peluru, bau mesiu dan suara gemuruh dentuman rudal kendali pun bergema di seantereo perbatasan Israel - Palestina. Tangisan anak-anak yatim para syuhada, airmata janda-janda para mujahid palestina, para pemuda yang siap maju ke medan laga memekik menyerukan takbir tak henti-hentinya. Senyuman para suhada telah membeku, sesaat pesawat tempur zionis menjatuhi rudal di tanah para Nabi, teduh wajah mereka dengan jasad rusak terbaring kaku, membisu.

Rabi'ah Sa'adah istri dari salah seorang mujahid yang sedang berjuang di Gaza, ia adalah wanita muda diantara ratusan pengungsi yang berkemah di perbatasan Rafah. Tapal batas antara Mesir dan Palestina. Tiga puluh lima kilo meter dari kota El-Arish. Perjalanan dari kota El-Arish menuju Rafah harus melintasi gurun pasir di padang sinai yang membentang sejauh pandangan mata. Jarak yang cukup jauh dari Gaza, perbatasan Rafah satu-satunya tempat yang aman bagi pengungsi yang berhasil lolos dari kekezaman zionis-zionis Israel yang menyerang tanpa pandang usia.


Sementara di Gaza, perang masih meradang. Serangan zionis terus menggempur dengan Rudal kendali yang meluncur menghantam pertahanan para pejuang Palestina. Ahmad Khalid, seorang lelaki muda yang baru tiga bulan menikah. Dia adalah salah seorang diantara ratusan mujahid yang berani mati untuk berjuang demi mempertahankan tanah para Nabi dari jajahan para tentara Yahudi. Kali ini dia mendapat misi untuk memasang rancau darat di jalan-jalan yang dilalui tank-tank besi yang siap memuntahkan rudal ke benteng pertahanan. Dia hanya punya dua pilihan, misi berhasil dan selamat sebagai pemberani, atau menjemput syahid dengan langkah yang tak gentar.

Bersambung....
oleh Dwi Ardy Prasadhana

Tidak ada komentar:

Posting Komentar