Selasa, 27 Mei 2014

'Petuah Perempuan Senja untuk Dinda' (flash fiction)


Sebenarnya ada rasa sesal karena siang tadi membantah nasehat Ibu ditambah lagi egoku merajai hati,sampai-sampai suaraku pongah meninggi. Tepat pukul 16 : 30 saat ini, aku masih juga belum berhasil memecah keras kepalaku di taman kecil di halaman belakang rumah nenek. Untukku cara terbaik agar lisanku tak semakin durhaka, ya pergi. Ke rumah nenek misalnya.

16 : 45 gerimis jatuh, semakin rapat. Bunga setaman basah bahagia, hujan selalu menjawab setiap pinta para perindunya yang tertunai lewat tumpahan rahmatNya.

" Dindaaa... Lagi hujan kok masih di situ aja, masuk !" Perempuan senja
ini setengah abad lebih sudah usianya. Nenek yang memanggilku untuk masuk rumah.
"Tadi Ayahmu datang nyari kamu. Setelah dia cerita kamu lagi ribut dengan Ibumu, nenek bilang biar kamu disini aja " ujarnya sembari duduk tepat di sebelahku. Aku hanya diam, untuk membalas tatapan nenek saja aku tak punya keberanian. Serba salah rasanya.
"Dinda, Apapun anjuran orang tua, niat mereka pasti baik. Jika tak sejalan dengan kemauanmu jelaskan baik-baik, itupun jika kemauanmu memang benar untuk perihal kebaikan."

"Dinda tahu ?!, mungkin ada banyak remaja yang seusiamu di luar sana. Yang orang tuanya tak lagi lengkap atau bahkan keduanya telah tiada. Jika mereka tiada, kelak kau akan merindu nasehat dari lisan seorang ayah, rindu bagaimana rasanya masakan seorang Ibu" Kali ini rasanya egoku runtuh. Aku salah.

" Nek tapi Ibu terlalu protektif, apa-apa nggak boleh. Akukan bukan anak kecil lagi . Apa yang dikhawatirkan Ibu terlalu berlebihan."

"Setiap Ibu adalah perempuan yang menggantungkan impian pada buah hatinya. Jika kemauanya bukan maumu,tetapi kamu harus tetap ingat ; jangan cegah Ibu mengkhawatirkanmu ! Sekalipun kau sudah tumbuh dewasa, Ibu tetap pada nalurinya. Seorang perempuan yang terkadang menganggapmu seolah anak kecil yang masih digendongannya. Karena Ibu terlalu cinta padamu."

Hujan mulai reda, menyisakan rinai hujan yang jatuh satu-satu. Hatiku benar-benar luluh. Ada haru pelaaan sekali menyusup ke bilik dadaku. Sepelan air mata sesalku yang mulai jatuh. Kuusap dengan punggung tanganku.

‪#‎PEREMPUAN‬

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Flash fiction yang diselenggarakan Akademi Berbagi Kab.Lab
uuhan Batu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar