Kamis, 08 Mei 2014

Bagiku kau kabut. Pada suatu ketika kau datang dengan serta merta membuat pandangan terhambat, membuat sesak pernafasan dan menciptakan misteri tujuan dari kedatanganmu. Kala itu kau dekat sekali, menempel disisi kulit. Namun dikondisi yang lain kau adalah terik siang yang kerontang. Tak perduli seberapa menyipit mataku untuk memandang rupamu, tak perduli betapa dahaga yang mencari oase dan keringat yang menyaksi betapa kekuatanmu menjadi siksa pada sepotong hati yang rapuh pada seonggok raga yang ringkih. Adakah kau tahu?
Sekembali-nya kau datang lagi bagai angin. Desirmu membelah kabut yang membuat samar jarak pandangku pada masa lalu. Seperti hujan, rintiknya beribu jatuh mengapus debu bekas jejakmu dulu. Ku pikir akan selalu kemarau panjang yang kau beri di siang kerontang yang kering, dan meranggas seperti cerita masa lalu. Tapi kali ini kau datang, bersama sekumpulan awan di atas kepalamu. Dan jika kau harus jatuh di duniamu ini untukku,berlakulah selayak jatuhnya hujan diawal musim. Ia akan menjadi permulaan tumbuhnya tetumbuhan kering.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar