Rabu, 09 Juli 2014

Sebuah Puisi oleh ; Farha Sifa

                            

 

Grafiti cinta yang tercecer

23 Juni 2014
 
Kini perasaanku hambar berserakkan...
Seperti anomali cuaca yang terkadang berubah diluar prediksi sang ramalan...
Mengikis perih lagu-lagu kenangan...
Mendesah lirih kasih yang terabaikan...
Meratap pilu rindu menggebu kekasih khayalan.....

Apa yang kamu inginkan dari setiap perjumpaan...?Padahal derita perpisahan itu teramat sakit menyayat kisi-kisi pintu keceriaan...
Menoreh cerita luka dalam jiwa yang muram...
Mengais buah kesetiaan dengan rasa yang dipertaruhkan...
Dan Makna yang termaktub adalah cinta yang berakhir diam...

Jika tetesan air hujan bisa memberikan kesejukan dan menghilangkan dahaga rasa...
Keteguhan hatimu mampu merapuhkan egoisme cinta yang sedikit memaksa...
Ntah hatimu terbuat dari apa.....
Begitu lembut...halus...dan tertata rapi menarik simpathy...

Bagiku....engkau tidak ubahnya seorang penakluk...
Yang menundukan cinta dengan kesabaran...dan menunjukan cinta dengan kebaikan...

Masih terpaku dan diantara diam yang tak menentu...
Tentang aku...tentang kamu...dan Dia yang selalu bersemayam dalam kalbu sang perindu..

Selasa, 24 Juni 2014

'Hujan Tanpa Tanda'



"...... Dalam kesedihan dan kearifanmu, waktu adalah teman yang baik. Dulu sekali, aku matahari dan kau hujan.Pertemuan kita melahirkan pelangi, melukis tiga warna cerah bianglala yang melengkung di cakrawala. Ketika itu disore yang basah, selepas hujan yang tak disangka tumpah memberi kejutan bagi kemarau panjang......" Kini, setiap kali gerimis jatuh. Rintik-rintik.Satu-satu. Aku hanya bisa mengenangmu. Menatap hujan dari balik bingkai jendela kaca. Mencari-cari dirimu di luar sana. Ah, sudahlah... Semua sudah usai sejak dulu, kisah kita sudah berlalu di hembus angin masa lalu. Ya, masa lalu yang masih jahiliyah. Aku belum di tegurNya kala itu, namun saat hidayahNya memanggilku untuk benar-benar patuh. Aku memilih menjaga maruah diri dengan menjauh. Dan akhirnya sekarang semuanya benar-benar hilang. Kau tanpa jejakku, aku tanpa jejakmu. Janji manisNya telah kau dapati. Hatimu dan hati lelaki yang bukan aku telah menyandingmu lebih dulu. Dan aku, masih setia akrab dengan sunyi.Sendiri. Tunggu sebentar ! Kalau boleh kuceritakan padamu,  entah mengapa sekarang aku ingin kembali menjadi matahari. Sebab aku kembali mengenal seseorang yang sikapnya seperti hujan. Tapi kau tahu kan ?! Aku yang sekarang bukanlah aku yang dulu di masa lalu. Diam dan menjaga jarak tetap kujadikan tameng penjaga hati, sebelum DIA meridhoi. Apalagiii.... ia nya seseorang yang hanya bisa ku temui di lini masa. Tanpa bicara, tanpa bersua serta tanpa tegur sapa nyata. Namun sejak dulu sikap hati memang tak pernah berubah. Hati tetap tak pernah perduli pada jarak, tak perduli pada ruang dan waktu untuk membentuk kedekatan. Walau ada jarak yang membentang jauh. Kali ini aku bertutur bukan tentangmu. Bukan tentang hujan di masa lalu, tapi tentang hujan yang sekarang. Setidaknya begitu menurutku, entah menurut dia..... yang jelas, meskipun pertemuan hujan dan matahari belum menjadi pelangi, tapi aku bisa melihat tiga warna cerah bianglala lewat aksara yang dirangkainya dengan rapi di laman lini masa. Barangkali ini yang di sebut hujan tanpa tanda, tiba-tiba bilik dadaku basah dibuatnya.......

"Tak semua fiksi, tak semua nyata, namun di setiap cerita pasti ada makna tersirat di dalamnya"
-Dwi Ardy Prasadhana

Senin, 23 Juni 2014

'Kisah Cinta Sie Sie'

Sebuah cerpen oleh : Darwis Tere Liye.


“Adalah Han, kuli kasar di pabrik tahu. Istrinya ibu rumah tangga yang repot mengurus anak-anak sekaligus repot bekerja sebagai babu separuh hari di rumah orang kaya. Keluarga Han tinggal di pinggiran Singkawang, daerah kumuh, tidak sedap dilihat, tidak enak dicium. Jauh lebih baik gang sempit tepian Kapuas milik kita.
“Dari tujuh anak mereka, adalah Sie Sie anak tertua, gadis remaja usia enam belas. Mekar menjadi kembang daerah kumuh itu, rambutnya panjang, tinggi semampai, berkulit putih, berlesung pipit dan amboi manis sekali senyumnya. Kalau kau bertemu dengan Sie di oplet, tidak akan menyangka dia amoy dari keluarga miskin, atau gadis remaja yang setiap hari harus bekerja keras, mengurus enam adik sejak shubuh buta sampai larut malam saat adiknya yang masih bayi jatuh tertidur.
“Kalau saja Sie ditakdirkan lahir di keluarga berada, lemari di rumah mereka pasti penuh dengan piala-piala, gadis itu pintar, rajin dan tidak suka mengeluh. Sejak kecil sudah terbiasa membantu orang-tuanya. Lihatlah, dia bisa ditemukan di rumah sedang menggendong adiknya yang paling kecil, sekaligus menyuapi dua adiknya yang lain, meneriaki adiknya yang cukup besar agar berhenti bertengkar, sambil menjahit pakaian dengan singer tua berkarat. Sayangnya Sie tidak sekolah, tidak berpendidikan. Satu-satunya keahlian dia adalah membuat baju pesanan yang dipelajarinya sendiri, itupun untuk membantu beban orang-tuanya.
“Keluarga mereka mampu bertahan hidup dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun hingga cobaan besar itu datang, ketika Ibu Sie Sie jatuh sakit. Apalagi yang diharapkan dari pemukiman kumuh, air bersih terbatas, ventilasi rumah buruk, lantai lembab? Semua mengundang banyak penyakit, Ibu Sie kena paru-paru basah, penumonia. Kondisinya memburuk, parah karena tidak segera mendapat pengobatan yang baik.
“Sejak Ibu mereka sakit, separuh penghasilan keluarga hilang, sialnya harus ditambah dengan pengeluaran baru, uang untuk membeli berbagai obat yang tidak kunjung menyembuhkan. Semua beban itu jatuh pada Sie Sie, selain mengurus enam adik-adiknya, dia juga harus merawat Ibunya, ditambah pula harus bekerja hingga larut malam menyelesaikan pesanan baju yang bayarannya tidak seberapa. Tidak terbayangkan, gadis usia enam belas memikul beban fisik dan pikiran sebanyak itu. Dan situasi semakin rumit saat Bapak mereka dipecat dari pabrik tahu, ketahuan mencuri brankas uang—tidak tahan dengan kesulitan yang ada, Bapak mereka mengambil jalan pintas.”
Pak Tua berhenti sejenak, meneguk teh aroma melati di atas meja.
Andi menatap gelas teh tidak sabaran.
“Di tengah situasi kacau-balau, Han mereka masuk bui, sakit istrinya tambah parah, harus segera dibawa ke rumah sakit, Sie Sie mendengar kabar ada pemuda Taiwan yang datang ke Singkawang mencari istri. Sie tentu sering mendengar percakapan, bisik-bisik tetangga tentang ‘nikah foto’. Dua orang teman dekatnya, setahun silam juga dipaksa orang-tua mereka menikah dengan lelaki dari Hongkong. Sie Sie sendiri yang menyaksikan dua temannya itu menangis hingga kering air-mata, Sie Sie sendiri yang memeluk, menghibur, melakukan apa saja untuk dua temannya yang tidak punya kekuatan menolak. Sie benci dengan pernikahan itu, sebenci dia dengan kemiskinan dan kebodohan yang menjerat mereka.
“Sayangnya, kebencian yang besar terkadang tidak cukup untuk melawan sesuatu. Malam itu, Ibu Sie jatuh pingsan, tubuh membiru, dengus nafas mulai habis. Bapak mereka yang masih di penjara tidak membantu. Sie Sie sendirian, dengan menumpang oplet, susah payah membawa Ibunya ke rumah sakit, pihak rumah sakit menolak Ibunya tanpa jaminan pembayaran. Sie terjepit. Di tengah situasi darurat itu, di tengah kalut pikiran, tidak ada tetangga, kerabat atau sahabat yang membantu, Sie Sie memutuskan mengambil pilihan yang tidak pernah dia pikirkan sebelumnya, pilihan yang amat dia benci, dia bersedia menjadi istri belian.
“Berangkatlah Sie Sie ke hotel itu, tempat pemuda dari Taiwan mencari istri. Sudah ada lima amoy pendaftar di lorong hotel, berbisik-bisik. Pemuda Taiwan itu ditemani salah-satu karyawan hotel melakukan seleksi—sepertinya karyawan hotel itu sudah terbiasa dengan proses mencari amoy. Ke sanalah Sie Sie pergi, mendaftar menjadi calon istri belian.”
Pak Tua berhenti sejenak, memainkan sumpit, menghela nafas.
Aku dan Andi ikut menghela nafas. Sementara malam semakin larut, restoran tempat kami menghabiskan choi pan tinggal berisi satu-dua pengunjung. Pelayan restoran terlihat asyik mengobrol dengan bahasa China.
“Nama pemuda Taiwan itu adalah Wong Lan, anak semata wayang dari keluarga kaya. Keluarga mereka punya pabrik tekstil, hidup makmur, berkecukupan. Sejak usia Wong Lan menginjak kepala tiga, Bapak Ibunya sudah sibuk mengingatkan agar dia segera menikah, mencari gadis pilihan, membina keluarga sendiri. Sayangnya, sejak usia tiga belas, kelakuan Wong Lan jauh bumi jauh langit dari harapan orang tuanya. Dia malas sekolah, lebih suka keluyuran, merokok, minuman keras, berjudi, berteman dengan orang-orang salah. Tabiatnya buruk, suka berteriak, dan kadang memukul pembantu di rumah. Bapak Ibunya berharap, kalau Wong Lan akhirnya menikah, maka perangainya akan sedikit berubah. Maka tidak terhitung anak gadis kenalan, kolega bisnis, tetangga yang diajak ke rumah, berkenalan dengan Wong Lan, sia-sia, anak semata wayang mereka lebih suka hidup bebas.
“Saat usia Wong Lan tiga puluh lima, orang tuanya meninggal dalam kecelakaan pesawat terbang di atas Laut China Selatan. Dari jasad yang tidak pernah ditemukan, orang tua Wong Lan mewariskan pabrik tekstil dan semua harta benda pada anak semata wayang mereka. Dan karena besar sekali harapan serta keyakinan Ibunya bahwa Wong Lan akan berubah setelah punya istri dan anak, maka surat warisan yang dipegang pengacara keluarga mensyaratkan dia harus telah menikah untuk memperoleh semua harta-benda. Isi wasiat itulah yang membuat kapiran semua masalah, Wong Lan cerdas, tidak hilang akal, dia tahu tentang amoy Singkawang, maka berangkatlah dia mencari istri yang bisa dibeli, yang tidak banyak tingkah.
“Wong Lan tidak jelek, apalagi buncit. Dia tampan, kacik sedikit dibanding ketampanan kau, Andi.” Pak Tua bergurau, tertawa, “Tetapi perangainya buruk. Apalagi dari awal, niat pernikahan itu sudah tak lurus. Dia mencari istri sekadar memenuhi syarat agar harta warisan jatuh padanya. Pemuda itulah yang ditemui Sie Sie di kamar hotel. Karyawan penginapan yang menemani wawancara berbisik kalau yang satu ini sepertinya memang masih gadis, bukan amoy tipuan seperti yang sebelumnya. Berbisik ini, berbisik itu.
“Dalam pertemuan lima belas menit itu, Sie hanya sekali menatap wajah Wong Lan, dan sekujur tubuhnya berontak, dia hampir muntah menahan rasa benci atas apa yang telah dilakukannya. Hanya karena bayangan wajah Ibunya yang sekarat, membuat Sie bertahan. Sie mendengar syarat-syarat yang disampaikan oleh pemuda Taiwan itu, yang sepertinya berkenan melihat Sie.
“Wawancara itu ditutup dengan angka nominal harga pernikahan itu. Sie hanya menunduk, mencegah orang melihat dia menangis, mencengkeram pahanya agar tidak gemetar, dia mengangguk, sepakat. Sekian ratus ribu di bayar saat pernikahan dilangsungkan, sekian puluh ribu akan dibayar setiap bulan untuk keluarga Sie selama setahun ke depan. ‘Kalau semua sudah beres, apakah pembayaran bisa dilakukan sekarang?’ Sie dengan suara bergetar bertanya. Karyawan hotel yang membantu Wong Lan tertawa, bilang, mana ada pembayaran sebelum menikah. Sie menahan tangis bilang dia butuh uang segera, berharap kalau memang memungkinkan, pernikahan dilangsungkan hari itu juga. Astaga, Sie yang dulu benci sekali dua temannya dipaksa menikah, hari itu, siang itu, justeru yang meminta pernikahan dilaksanakan segera.
“Kalian tahu, Borno, Andi,” Pak Tua menghela nafas panjang, ikut tertunduk dalam-dalam, menekuri meja makan restoran, “Dalam hidup ini, kita masih beruntung, karena kita selalu punya banyak pilihan. Apapun masalah kita, tetap saja banyak pilihan solusi yang tersedia. Sie Sie tidak punya. Dia sungguh tidak punya pilihan. Bapaknya di penjara, Ibunya sekarat, adik-adiknya butuh makan, pernikahan ini akan memberikan jalan keluar. Jaman itu, uang ratusan ribu terbilang besar, dan pembayaran bulanan yang dijanjikan pemuda Taiwan nilainya tiga kali lipat dari penghasilan keluarga mereka selama ini.
“Pikirannya buntu, bagi Sie, itu lebih terhormat dibanding mengemis, meminta-minta atau menjual diri seperti gadis-gadis lain. Lagi-pula, tidak ada hukum yang melarang membeli istri, bukan? Itu sah, anggap saja pembayaran mahar. Sie berlari sepanjang halaman hotel dengan air-mata berlinang. Dia ingin berteriak, tapi kerongkongannya kelu, dia ingin marah, pada siapa? Pada Tuhan? Keputusan itu dia ambil sendiri, tidak ada yang bisa disalahkan. Semua pilihannya sendiri, apapun resiko dan harganya.
“Surat wasiat Ibu Wong Lan mensyaratkan pernikahan resmi, maka surat-menyurat harus diurus, itu kabar baik bagi Sie, karena banyak amoy lain yang tidak jelas status hukumnya. Wong Lan ingin segera membawa istri pulang ke Taiwan, Sie Sie ingin segera punya uang, tujuan yang cocok, karyawan hotel segera berangkat mengurus dokumen. Menjelang malam karyawan hotel itu datang ke rumah sakit, mengabarkan semua beres, semua siap. Pernikahan bisa dilaksanakan kapan saja, tinggal membubuhkan tanda-tangan.
“Dan tibalah waktunya Sie bilang kepada Ibunya tentang keputusan gila yang telah dia buat. Kalian bayangkan, ruangan gawat darurat, pukul sepuluh malam, hanya ada Sie dan Ibunya yang terbaring lemah di ranjang. Suster jaga menunggu di sudut ruangan, dokter sudah pulang. Sie gemetar, mengabarkan pada Ibunya, perihal dia akan menjadi isteri belian, dibawa orang asing pergi ke negeri seberang lautan.
‘Sie janji, Ma. Sie janji semua akan baik-baik saja.’
Remaja enam belas tahun itu memeluk ibunya, menahan menangis.
‘Kau tidak boleh melakukannya, Nak.’
‘Sie janji, Ma.’ Gadis itu berbisik terisak.
‘Kau sungguh tidak boleh melakukannya, Nak.’ Ibunya terbatuk pelan, ikut menangis.
‘Keputusan Sie sudah bulat, Ma. Semua sudah diatur, semua sudah selesai, Sie sudah jadi istri orang.’ Sie Sie menyeka bibir Ibunya, ‘Biarlah, Ma. Tidak mengapa. Dengan begini… dengan begini Ma bisa sembuh, kita punya uang untuk makan, adik-adik bahkan bisa sekolah.’
‘Tidak boleh, Nak. Tidak boleh. Ya Tuhan, semua ini salah kami. Kenapa Sie yang harus menanggung semua beban?’ Ibunya tersengal.
Sie Sie memeluk erat Ibunya, ‘Sie janji, Ma. Pernikahan ini akan bahagia. Sie akan mencintai dia apa adanya. Sie janji Ma, dia juga akan mencintai Sie apa-adanya.’
Aku dan Andi tercenung, bersitatap satu sama lain.
Tentu saja Pak Tua tidak meng-adegankan kejadian itu dalam ceritanya, tidak bilang seperti apa dialognya, tapi kami bisa membayangkan betapa menyakitkan kejadian itu. Mengingatkanku pada keputusan almarhum Bapak mendonorkan jantungnya dulu, ketika aku mengamuk di lorong rumah-sakit. Itu sama menyakitkan, bedanya aku menolak pengorbanan Bapak, Sie Sie justeru memilih mengorbankan dirinya.
“Andi, Borno, itulah janji suci yang diucapkan seorang amoy yang masih berusia enam belas tahun. Dia berjanji, akan mencintai apa-adanya suaminya yang datang dari antah berantah. Dan dia juga berjanji, akan membuat suaminya mencintainya apa-adanya. Sie Sie berjanji akan memaksa perasaan itu tumbuh mekar di pernikahan mereka.” Pak Tua menengadahkan kepala, menatap langit-langit restoran, “Ah, cinta, selalu saja misterius. Bisa apa seorang gadis tanggung enam belas tahun di negeri orang? Menikah dengan seseorang yang bertabiat buruk dan sejak awal sudah benci pernikahan itu. Bisa apa dia?”
***
Dan waktu berjalan cepat.
“Wong Lan membawa Sie Sie ke Taiwan esok paginya, lebih cepat lebih baik. Kepergian yang menyedihkan, karena tidak seperti pengantin baru yang dilepas dengan perasaan suka-cita, doa-doa dan pengharapan, tidak ada satu pun kerabat yang mengantar Sie ke terminal bus menuju Pontianak, kemudian menumpang pesawat ke Jakarta, transit di Singapura lantas Taiwan.
Sie Sie bahkan tidak sempat pamit pada Bapaknya, menyedihkan.
“Dia sudah berdiri di depan pintu ruang bezuk, kakinya gemetar, matanya basah, dan saat sipir penjara berteriak memanggil, “Siapa yang bernama Sie Sie? Bapak Han sudah menunggu di dalam.” Sie justeru sedang membujuk mati-matian agar dirinya berdiri tegar, “Siapa yang bernama Sie Sie? Waktu bezuk hanya setengah jam?” Petugas berteriak, kepalanya melongok. Sie menggigit bibir sampai terasa asin, dia ingin bertemu Bapaknya sebelum pergi jauh, ingin mengabarkan keputusan itu, meminta doa restu. “Woi, mana yang namanya Sie Sie? Aku tidak akan menunggu seharian di sini, ada banyak urusan lebih penting.” Petugas mendengus marah. Sie sudah menangis, dia berlarian sepanjang lorong, kakinya berkhianat, menyuruh menyingkir sejauh mungkin.
“Kalian tahu, dari ketinggian langit, tidak macam penumpang yang pertama kali naik pesawat terbang, antusias melihat cakrawala luas, awan-awan putih, Sie hanya menatap kosong batas pulau Kalimantan. Entah di mana Singkawang, di mana Pontianak, di mana kotanya, yang terlihat hanya kontras warna biru gelap dan biru muda yang semakin memudar. Dia sudah ribuan kilometer meninggalkan tanah kelahiran. Sie Sie menyeka ujung mata, dia berjanji, ini untuk terakhir kalinya dia menangis, tidak, dia tidak akan lagi menangis apapun yang terjadi. Dia berjanji sungguh-sungguh, menyeka ingus. Sementara suaminya, Wong Lan, sejak pesawat lepas landas mendengkur tidak peduli di kursi sebelah.”
Pak Tua diam sebentar, menghela nafas.
Aku dan Andi ikut menghela nafas.
“Mereka tidak banyak bicara sepanjang perjalanan, juga tidak banyak bicara saat tiba di rumah keluarga Wong. Tidak ada acara menyambut menantu, tidak ada kerabat, tetangga bahkan pembantu yang tahu mereka datang. Peduli Wong Lan hanya satu, mengundang pengacara sesegera mungkin, memperlihatkan Sie Sie, surat menyurat dan bukti dokumen pernikahan sah. Syarat telah dipenuhi, harta warisan keluarga resmi menjadi milik Wong Lan. Senang bukan kepalang pemuda Taiwan itu, hingga tidak peduli mau apa, hendak apa, dan siapa Sie Sie baginya. Cuma pada pengacara itu Wong Lan mengaku Sie istrinya, sedangkan pada tamu yang berkunjung, teman yang datang, Wong santai bilang kalau Sie adalah pembantu impor dari Indonesia, “Gajinya murah, cukup diberi makan tiga kali sehari. Sudah senang dia. Kau mau kucarikan satu?” Bergaya Wong Lan menunjuk-nunjuk jidat Sie Sie.
“Tidak ada di keluarga itu yang menghargai Sie, termasuk pembantu sekalipun. Sopir, tukang kebun, tukang pel, di belakang sibuk memonyongkan bibir tanda tidak suka, “Istri belian, wanita murahan, statusnya lebih rendah dibanding kita.” Membiarkan gadis usia enam belas itu berjuang sendiri melakukan penyesuaian. Negeri baru, iklim baru, musim panas, musim dingin, musim semi, mana ada salju di Singkawang? Aksen dan kosakata mandarin yang berbeda, racikan bumbu masakan yang berbeda, cara berpakaian yang berbeda, semuanya berbeda.
“Dua tahun berlalu, dengan pengalaman mengasuh enam adiknya selama ini, setidaknya Sie cukup tangguh. Wong Lan juga belum menyakiti Sie secara fisik, orang-orang di rumah meski tidak respek, tidak berani menunjukkan rasa benci secara terbuka. Dua tahun itu, Sie menyibukkan diri, belajar menjadi istri yang baik, melakukan apa saja yang bisa dia kerjakan, melayani suami sebaik mungkin, menyiapkan baju, memasangkan dasi, menyemir sepatu, berlarian membawa tas kerja, menyiapkan makanan, merapikan tempat tidur. Memasang wajah riang, tidak peduli meski Wong Lan melempar piring, mencaci masakannya, tidak peduli walau Wong Lan merenggut dasi yang dipasangkan, menginjak tangannya saat melepas sepatu. Sie sudah berjanji pada Ibu, dia akan mencintai suaminya apa-adanya.
“Nah, bicara tentang Ibu, persis di penghujung tahun kedua, sepucuk telegram terkirim dari Singkawang, isinya pendek: Tadi malam kma senin kma tanggal dua satu bulan lima kma pukul delapan ttk tiga puluh kma Ibu meninggal di RSU ttk tidak perlu dicemaskan kma Ibu akan segera dikebumikan esok pagi kma peluk sayang dari adik adikmu ttk hbs.
“Kelu bibir Sie Sie membaca telegram itu. Uang memang berhasil memperpanjang usia, tapi takdir tidak pernah terkalahkan. Sie ingin pulang ke Singkawang, setidaknya melihat pusara merah Ibunya. Sie rindu adik-adiknya. Sie juga rindu memeluk Bapaknya. Apalah yang bisa dia lakukan? Di rumah besar itu, sepeser uang pun dia tidak pegang, paspor, surat-menyurat terkunci rapat di lemari besi Wong Lan. Apakah dia akan menunjukkan telegram itu pada suaminya? Wong Lan tidak pernah peduli urusan Sie, ekspresi wajahnya selalu sama, menyingkir, urus saja diri kau sendiri.
“Situasi memburuk saat pernikahan memasuki tahun ketiga, bukan karena memang di tahun-tahun itu rasa bosan, masalah, salah-paham lazim muncul bagi kebanyakan pasangan, tapi karena pabrik tekstil kecil Wong Lan terkena imbas krisis harga minyak tahun 80-an, ekonomi Taiwan mengalami kemunduran. Dan situasi diperburuk dengan kenyataan Wong Lan tidak becus mengurus pabriknya. Dia lebih suka keluyuran dibanding mengawasi pekerja, lebih suka berkumpul dengan teman-temannya dibanding kolega bisnis, lebih suka bersenang-senang dibanding memikirkan strategi dagang yang baik. Aliran uang mulai tersendat, hutang menumpuk, tabiat Wong Lan yang suka marah-marah dan memukul kambuh. Siapa lagi yang bisa dicaci dan dipukul seenak perutnya? Sie Sie.
“Usia gadis itu dua puluh ketika masa-masa siksaan fisik datang. Pagi ditampar, siang dijambak, malam ditendang. Dan situasi terus memburuk dari hari ke hari. Teman-teman dekat Wong Lan pergi, tak ada uang, tak ada kesenangan, semua menjauh darinya. Pekerja pabrik macam kartu remi dirobohkan, satu persatu berhenti, termasuk orang-orang kepercayaan orang tua Wong Lan dulu, pembantu di rumah, hanya soal waktu minta berhenti, tidak tahan dengan marah-marah sepanjang hari. Hanya tersisa Sie Sie sebagai sansak, pelampiasan seluruh tabiat buruk suaminya sendiri. Siang-malam Sie tersiksa lahir-batin, macam di terowongan gelap tanpa titik terang. Bangun pagi hanya untuk menjemput hari menyedihkan berikutnya. Sementara pabrik tekstil Wong Lan mati segan hidup tak mau, mereka bertahan hidup dari sisa harta benda.
“Dua tahun masa kelam, datang kabar besar, Sie Sie hamil. Dia mengandung buah cinta, kalau memang ada cinta di pernikahan itu. Seharusnya itu kabar baik. Jauh langit jauh bumi, Wong Lan malah menuduh Sie dihamili orang lain, memukuli istrinya yang sedang hamil muda. Itu situasi darurat, tidak mungkin Sie membiarkan kandungannya dalam bahaya, dia akhirnya memutuskan mengungsi, ditampung oleh keluarga konsulat Indonesia. Kasus itu menarik perhatian polisi lokal Taiwan, penyidikan dilakukan, Wong Lan ditahan. Hampir enam bulan dia masuk penjara, lihatlah, tidak seharipun Sie alpa mengunjunginya, membawakan rantang makanan kesukaan, memasang wajah riang bertanya apa kabar. Dan apa balasan Wong Lan? Acuh tak acuh, menatap benci Sie Sie, mengutuknya sebagai penyebab bala bagi seluruh keluarga, membuat pabrik bangkrut, “Dasar wanita pembawa sial.” Tidak sehari pun dengusan seperti itu alpa diterima Sie. Wong Lan tidak peduli perut istrinya semakin membesar, tidak peduli wajah berseri-seri istrinya, yang tetap sungguh-sungguh melayani dan berusaha membatalkan seluruh proses pengadilan.
“Usia bayi mereka satu bulan saat Wong Lan dibebaskan. Setidaknya, dengan kehadiran bayi di rumah, walau mulutnya tetap kotor, Wong Lan berpikir dua kali untuk memukuli Sie. Anak pertama mereka laki-laki, tampan macam Bapaknya, rambutnya lurus hitam legam seperti Ibunya. Wong Lan tidak peduli, sama tidak pedulinya meski nama anak itu mewarisi namanya. Dia jarang ada di rumah, selalu pergi, dan saat pulang, mulutnya bau alkohol, pakaiannya kusut, rambutnya berantakan, dan selalu berteriak-teriak. Wong Lan tidak memenuhi kebutuhan Sie dan bayi mereka, dia sendiri saja menjual hampir seluruh harta benda yang ada. Kebiasaan judinya datang tak tertahankan, satu persatu perabotan digadaikan. Tinggallah Sie yang harus menanggung keperluan, susu si kecil, kebutuhan rumah tangga. Kabar baik, dia pernah melakukannya di Singkawang, waktu usianya enam belas, tidak masalah dia melakukannya sekali lagi di Taiwan. Sie menerima pesanan jahitan, membuat poster, berkeliling dari pintu ke pintu sambil menggendong si kecil, menawarkan jasa membuat baju.
“Dua tahun bertahan hidup, Sie hamil lagi, bayi kedua. Percuma, Wong Lan tetap tidak peduli, hatinya tidak tersentuh, dia asyik dengan dunianya sendiri, terakhir terbetik kabar dia menjual seluruh bangunan dan tanah pabrik. Uang itu sebenarnya cukup banyak, tapi hanya habis dalam hitungan minggu. Habis di meja judi, penginapan, tempat hura-hura. Wong Lan merasa dunianya kembali, teman-teman seperti laron datang merubung, dia lupa, saat uangnya habis, dia kembali sendirian di meja-meja minum, sepi di tengah keramaian pub.
“Enam tahun berlalu, bayi ketiga dan keempat lahir, kembar. Lucunya tak terkira, amat menggemaskan. Sia-sia, Wong Lan tetap tidak peduli, mengunjungi Sie di rumah sakit pun tidak. Dia baru saja menggadaikan rumah besar, harta terakhir warisan orang-tuanya. Bersenang-senang dengan tumpukan uang yang dengan cepat menipis. Tinggallah Sie repot mengurus empat anaknya, berusaha mencari tempat berteduh sementara. Untuk kedua kalinya Sie Sie ditampung keluarga konsulat. Salah-satu staf konsulat menasehati Sie agar menghentikan pernikahan itu, minta cerai. Semua dokumen bisa disiapkan, paspor pengganti, paspor untuk anak-anaknya. Sie menolak mentah-mentah, menggeleng tegas, dia sambil menahan air-mata tumpah bilang tentang janji hebat itu. Dia akan mencintai suaminya apa-adanya, dan dia akan memaksa perasaan yang sama muncul di hati suaminya. Itu gila! Itu benar-benar kalimat paling gila tentang cinta yang pernah kudengar.” Pak Tua menggeleng-gelengkan kepala, mengusap uban.
Aku dan Andi ikut mengusap kepala.
“Siapa Wong Lan sekarang? Tidak lebih seorang laki-laki berusia empat puluhan, tidak punya pekerjaan, pemabuk, penjudi dan ratusan tabiat buruk lainnya. Kalau dulu Sie bertahan, masuk akal, dia membutuhkan wesel bulanan ke Singkawang agar adik-adiknya bisa makan, bisa sekolah. Sekarang, bahkan untuk membeli popok si kembar, itu hasil keringat Sie Sie sendiri. Aku tidak bisa mempercayai Sie yang menahan tangis, tersendat, kedat, bilang, ‘Aku mencintai suamiku sejak pertama kali naik bus menuju Pontianak. Dan aku akan terus mencintai dia hingga mati.’ Lantas menciumi bayi kembarnya, mati-matian menahan tangis karena dulu dia pernah bersumpah tidak akan menangis lagi.
“Tiga bulan menumpang di konsulat, Sie Sie mengontrak rumah kecil. Setelah bertahun-tahun berusaha, keahliannya menjahit pelan-pelan dikenal banyak orang. Bisnisnya mulai berkembang. Boleh jadi itu rezeki dari bayi-bayinya. Boleh jadi itu buah keteguhan hati Sie Sie. Boleh jadi, tidak ada yang tahu. Bertahun-tahun berlalu, hingga anak-anaknya mulai sekolah, bisnis Sie Sie tumbuh besar, belasan mesin jahit berdatangan, pekerja tumbuh jadi puluhan.
“Di mana Wong Lan? Tidak ada yang tahu. Dia menghilang lepas menjual rumah besar milik keluarganya, gelap beritanya, sosoknya raib ketika si kembar lahir, meninggalkan begitu saja istri dan empat anaknya. Lantas apa yang dilakukan Sie atas kepergian suaminya? Setelah seharian sibuk mengurus anak-anak dan bisnis jahit menjahit, setelah si kembar tidur lelap, Sie mulai melahap semua berita di koran, menandai iklan mencari orang, bertanya kesana kemari, mengunjungi kantor polisi, mengunjungi pub-pub, tempat hura-hura, Sie menghabiskan malam untuk mencari suaminya. Dia lakukan itu tanpa alpa semalam selama enam tahun. Bayangkan, enam tahun. Tidak putus pengharapan. Tidak mundur selangkah pun.
“Saat anak pertama mereka berusia dua belas, kabar baik itu datang, salah-satu karyawan yang disuruh mencari Wong Lan, akhirnya melaporkan suaminya ditemukan terlunta-lunta di Hongkong. Usia suaminya lima puluh, lelaki tua yang hidup sendirian, sakit-sakitan, tanpa teman, terlupakan dari dunia. Kabar itu membuat hati Sie bungah, dia tidak sabaran, memutuskan berangkat malam itu juga ke Hongkong, menjemput suaminya, menjemput bapak dari anak-anaknya. Tapi saat dia menuju bandara, melesat kabar duka dari Singkawang, telepon dari salah-satu adiknya, bilang Bapak Sie Sie meninggal dunia.
“Lama nian Sie menahan kerinduan pulang. Tahun-tahun terakhir, dengan keleluasaan yang dia miliki, kesempatan itu bisa dilakukan kapan saja, tapi dia tidak akan melakukannya tanpa ditemani Wong Lan. Dia ingin pulang, menziarahi makam Ibu, bilang kalau janjinya sudah dipenuhi. Malam itu, kabar kematian Bapaknya membuat kerinduan datang tak tertahankan. Adik-adiknya di Singkawang bilang, jika Sie bersedia pulang, jasad Bapak akan menunggu dia. Separuh hatinya ingin pulang ke Indonesia, memenuhi kewajiban terakhir mengantar Bapak ke pemakaman. Tapi suaminya menunggu di Hongkong, dirawat di salah-satu rumah sakit. Urusan ini muda ditebak, lima belas menit menatap layar jadwal keberangkatan pesawat di bandara, Sie memilih menjemput suaminya. Itulah keluarganya sekarang, itulah keluarganya sejak dia memutuskan dibeli suaminya lima belas tahun lalu.
“Tubuh Wong Lan kurus kering saat dibawa kembali ke Taiwan, kebiasaan buruk menggerogoti fisiknya. Dan bukan itu masalah terbesarnya, melainkan anak tertua Sie menolak mentah-mentah memanggil Bapak pada Wong Lan, usianya dua belas, sudah lebih dari tahu cerita penderitaan Ibunya selama ini. Dia berteriak marah, mengusir Wong Lan dari kamar perawatan di rumah. Itu bagian menyakitkan kesekian yang harus dialami Sie, dia memeluk anaknya, meminta dengan sangat, sambil menangis, agar si sulung mau memanggil Wong Lan, ‘Bapak’. Si sulung mengibaskan tangan Ibunya, berlari. Hanya si kembar yang bersedia menemani Ibunya merawat Wong Lan.
“Berbulan-bulan Sie merawat suaminya dengan tulus. Proses rehabilitasi kecanduan. Lelah mengurus bisnisnya, capai mengurus tingkah anaknya, sering dia ditemukan jatuh tertidur di ranjang tempat suaminya berbaring lemah. Rambut Sie yang dulu hitam legam mulai beruban. Wajahnya yang dulu periang, mata sipit bersinar-sinar, tinggal gurat muka penuh ketabahan dan sorot mata tulus. Tubuhnya yang dulu ramping, tinggi semampai, sekarang bungkuk, kaki pincang sisa pukulan-pukulan kasar suaminya. Janji itu luar biasa, janji itu macam mercu suar di pinggiran kota Taiwan, dia sungguh akan mencintai suaminya apa-adanya. Maka bulan-bulan perawatan itu menjadi simbol paling agung rasa cinta Sie. Tidak ada kebencian, tidak ada penyesalan. Astaga, seandainya kita bisa melihat wajah Sie saat merawat suaminya. Janji itu sungguh luar-biasa.” Pak Tua menyeka ujung mata, sedikit terharu.
Andi malah kedat hidung.
Aku menyikut Andi pelan, kau tidak akan menangis, kan?
Andi melotot, enak saja.
“Kalian tahu, Andi, Borno? Apakah kau bisa memaksa perasaan cinta? Sie bisa melakukannya. Dia bisa membuat suaminya mencintai dia apa-adanya, bahkan walau sebelumnya Wong Lan amat membencinya. Di malam kesekian masa-masa rehabilitasi, ketika Wong Lan terjaga, saat dia menatap wajah lelah istrinya yang jatuh tertidur di pinggir ranjang, perasaan itu mulai tumbuh kecambahnya. Lihatlah, wanita yang selama ini dia sakiti, tega dia beli lantas dibawa pergi jauh dari rumahnya, wanita yang dia renggut dari masa remajanya yang indah, begitu tulus merawat dirinya enam bulan terakhir. Wong Lan tergugu, menyentuh bekas carut luka di kening istrinya, luka itu bekas lemparan asbak darinya.
“Tangan Wong Lan gemetar menyentuh rambut beruban Sie, lihatlah, wajah teduh ini, wajah penuh kasih-sayang istrinya. Ini tetap wajah yang sama meski dulu dia lempar, dia injak, wajah yang sama meski dulu dia kutuk wanita pembawa sial. Wong Lan menangis dalam diam, terisak dalam senyap. Alangkah bodoh dirinya selama ini. Bodoh sekali. Disangka teman-temannya akan selalu ada, itu dusta. Disangka semua kesenangan itu abadi, itu tipu. Semua tidak hakiki. Adalah cinta Sie yang sejati, cinta wanita yang dia sia-siakan, wanita yang dia aniaya bertahun-tahun. Malam-malam rehabilitasi itu menjadi saksi saat cinta Wong Lan tumbuh mekar, cinta seorang pemuda Taiwan yang terlambat lima belas tahun. Benar-benar terlambat. Tapi tak mengapa, itu tetap berakhir bahagia, tidak mengurangi nilainya.”
Pak Tua terdiam lama. Menghela nafas panjang, menatap jalanan depan restoran yang lengang. Pelayan sudah bersiap merapikan meja-meja. Tidak ada lagi pengunjung selain kami.
“Itulah cinta sederhana amoy Singkawang. Cerita hebat yang tidak diketahui sopir sok-tahu tadi siang. Tidak semua amoy yang pergi ke Taiwan bersama seseorang yang baru dikenalnya sehari dua hari bernasib buruk. Hidup adalah perjuangan, bukan? Kebahagiaan harus direngkuh dengan banyak pengorbanan. Sie Sie telah membuktikan janjinya.”
Andi benar-benar menyeka mata, tidak peduli aku meliriknya.
Pak Tua tersenyum, “Kalian pasti bertanya, lantas apa hubunganku atas kisah ini? Aku ada di konsulat Taiwan itu saat Sie mengungsi. Akulah yang berseru, gila! Menilai kalimat Sie berlebihan dan tidak masuk akal. Ah, itu masa-masa saat orang-tua ini melakukan perjalanan ke mana-mana, melihat banyak hal, belajar banyak hal. Lantas kenapa kita malam ini ada di Singkawang? Karena besok, Sie dan Wong Lam akan menikahkan salah-satu si kembar di kota ini. Aku turut diundang. Si kembar berjodoh dengan amoy Singkawang saat berkunjung ke sini beberapa tahun lalu. Tentu, pernikahan itu bukan ‘pernikahan foto’. Mereka jatuh cinta pada pandangan pertama saat bertemu di Pekong Surga-Neraka. Nah, besok juga adalah pertama kali Sie Sie pulang ke Singkawang. Besok, dia akan bilang ke pusara Ibunya, janji itu telah dipenuhi, dia bisa memaksa perasaan itu tumbuh di hatinya dan di hati suaminya. Janji hebat seorang gadis yang baru berusia enam belas tahun. Ah, bisa apa dia? Dia bisa membuktikannya.”
 
 

Minggu, 22 Juni 2014


"Untuk mereka yang saling menjaga sebelum pertemuan yang di damba.Tuhan selalu punya cara yang indah untuk tunaikan janji manisnya. Sekarang, semoga kita lebih nyaman dengan diam di bangku taman. Tak perlu resah jangan tergesa. Entah siapapun nanti. Pasti dan pasti, di batas waktu ada masa di mana dua hati yang tak saling kenal, namun  saling menunggu. Akan bertemu."

Dan menunggu itu ialah saat dimana kita mengumpulkan keyakinan penuh. Untuk menjemput, berlayar lalu berlabuh.

Rabu, 18 Juni 2014

'Di Batas Waktu'

Ada banyak hal yang dipertemukan dan terpisah di batas waktu. Untuk kita yang mulai lelah dipermainkan masa. Selelah apapun kita, waktu tak pernah salah. Sebab jika waktu adalah ketukan irama, maka ia adalah nada tanpa jeda. Temponya sama sekali tak dapat di ubah-ubah.

Ada banyak hal yang bisa pergi dan tak kembali di batas waktu. Untuk kita yang selalu khusyu merapal do’a, yakinlah… Bahwa do’a tak begitu, ia pergi membawa harapan dan kembali Allah kabulkan. Dan di batas waktu pula janji Allah tertunaikan.

Sekarang, semoga kita lebih nyaman dengan diam di bangku taman. Tak perlu resah jangan tergesa. Entah siapapun nanti. Pasti dan pasti, di batas waktu ada masa di mana dua hati yang tak saling kenal, namun  saling menunggu. Akan bertemu.

Di bangku taman 18 Juni 2014 Dwi Ardy Prasadhana.

Selasa, 27 Mei 2014

'Petuah Perempuan Senja untuk Dinda' (flash fiction)


Sebenarnya ada rasa sesal karena siang tadi membantah nasehat Ibu ditambah lagi egoku merajai hati,sampai-sampai suaraku pongah meninggi. Tepat pukul 16 : 30 saat ini, aku masih juga belum berhasil memecah keras kepalaku di taman kecil di halaman belakang rumah nenek. Untukku cara terbaik agar lisanku tak semakin durhaka, ya pergi. Ke rumah nenek misalnya.

16 : 45 gerimis jatuh, semakin rapat. Bunga setaman basah bahagia, hujan selalu menjawab setiap pinta para perindunya yang tertunai lewat tumpahan rahmatNya.

" Dindaaa... Lagi hujan kok masih di situ aja, masuk !" Perempuan senja
ini setengah abad lebih sudah usianya. Nenek yang memanggilku untuk masuk rumah.
"Tadi Ayahmu datang nyari kamu. Setelah dia cerita kamu lagi ribut dengan Ibumu, nenek bilang biar kamu disini aja " ujarnya sembari duduk tepat di sebelahku. Aku hanya diam, untuk membalas tatapan nenek saja aku tak punya keberanian. Serba salah rasanya.
"Dinda, Apapun anjuran orang tua, niat mereka pasti baik. Jika tak sejalan dengan kemauanmu jelaskan baik-baik, itupun jika kemauanmu memang benar untuk perihal kebaikan."

"Dinda tahu ?!, mungkin ada banyak remaja yang seusiamu di luar sana. Yang orang tuanya tak lagi lengkap atau bahkan keduanya telah tiada. Jika mereka tiada, kelak kau akan merindu nasehat dari lisan seorang ayah, rindu bagaimana rasanya masakan seorang Ibu" Kali ini rasanya egoku runtuh. Aku salah.

" Nek tapi Ibu terlalu protektif, apa-apa nggak boleh. Akukan bukan anak kecil lagi . Apa yang dikhawatirkan Ibu terlalu berlebihan."

"Setiap Ibu adalah perempuan yang menggantungkan impian pada buah hatinya. Jika kemauanya bukan maumu,tetapi kamu harus tetap ingat ; jangan cegah Ibu mengkhawatirkanmu ! Sekalipun kau sudah tumbuh dewasa, Ibu tetap pada nalurinya. Seorang perempuan yang terkadang menganggapmu seolah anak kecil yang masih digendongannya. Karena Ibu terlalu cinta padamu."

Hujan mulai reda, menyisakan rinai hujan yang jatuh satu-satu. Hatiku benar-benar luluh. Ada haru pelaaan sekali menyusup ke bilik dadaku. Sepelan air mata sesalku yang mulai jatuh. Kuusap dengan punggung tanganku.

‪#‎PEREMPUAN‬

Tulisan ini diikut sertakan dalam lomba Flash fiction yang diselenggarakan Akademi Berbagi Kab.Lab
uuhan Batu.

Minggu, 25 Mei 2014

"Taukah kau karomah yang dimiliki oleh orang-orang yang sabar ? Bahwa mereka tidak akan merasakan sakit ataupun lelah. Mungkin fisiknya merasakan,namun hati dan jiwanya tetap utuh.Teguh.

-Dialog Hati
"Tanyalah hatimu atas semua perkara karena hati tak pernah menjerumuskan pemiliknya. Jika hatimu bimbang, diam tak bicara maka sejatinya ia telah dibungkam oleh cinta selainNya"
-Dialog Hati

"Lelaki dan Airmata"



Lelaki yg kuat itu bukan yg takk pernah menangis...
Lelaki pemberani itu bukan yg tak pernah takut & tersungkur dalam sujud krn takut pada Robbnya...
Segagah apapun seorang lelaki belum lengkap kebijaksanaanya tnpa kelembutan hatinya...
Lihatlah keganasan sang Singa pdang Pasir "Umar bin Khatab" dibalik wataknya yg keras, beliau punya hati yg lembut, hingga malam-malamnya dihiasi dgn rintihan & tangisan dalam munajat pada Robbnya

Lihatlah Khalid bin Walid yg pedangnya siap menebas leher musuh-musuh Islam, hingga ia bergelar "pedang kaum muslimin", dibalik kegarangannya dimedan perang ia punya hati yg lembut, hingga airmatanya mmbasahi pipi & janggutnya karena rasa takut yg luar biasa pada Robbnya...

Sebagai lelaki kita tk perlu malu utk mnangis , menangislah karena itu tanda kelembutan hati... Menangis krn takut pdaNya, menangis krn risau atas Iman keluarga & umat ini bagaimna agar hidayah bisa kekal didalam diri...

Jika hari ini kita bisa tertawa karena bahagia...
Sudahkah kita menangis karena dosa ?
Air mata memang tak berbicara, tapi bisa memberi jawaban...
Airmata memang tak selesaikan masalah tapi bisa melegakan dada...

Dan jika teringat akan mutiara hikmah dari para Arif billah yg kujumpa mereka slalu berpesan " bnyak-banyaklah menangis disepertiga malam agar hati semakin brcahaya... "


Semoga Allah kekalkn hidayah dalam diri kita dan menjadi asbab hidayah untuk orang lain serta  tarbiyah-tarbiyah driNya pelembut hati kita

Sabtu, 24 Mei 2014

"Perihal Cinta"

Ada yg hanya terpesona karena rupa saja sehingga salah arah...
Ada yg hanya terkesima dgn kecerdasan saja, disaat keburukan & kekurangan telah tampak didepan mata lantas cinta tinggal cerita hilang seiring rasa kagum yg telah sirna.
Ada yg tergiur hanya karena harta benda, hingga rela hina dihadapan Rabb nya karena memilih menjdi budak dunia.
Namun, tak banyak yg terkesan karena Iman & taqwa, padahal inilah pakaian syurga...
Tak banyak yg terkesan dgn agamanya padahal inilahmodal utama...

.Tak banyak yg terkesan karena Akhlaknya padahal inilah perhiasan yg paling berharga...

Cinta itu pangkal dari baik maupun buruk, & sebaik-sebaik cinta adaalh yg membawa ketaaatn pada Rabbnya selain daripda itu akan menjdi fitnah....
Seberapa yakinkah hati bahwa mencinta krnNya pasti & pasti berakhir bahagia, berpisah bukan karena orang ketiga, berpisah bukan krn berbeda...
tapi berpisah krn Waktu telah menutup usianya, maut telah mnjemputnya hingga ia atk bisa berdiri lagi untukmu, saat tubuh telah terbujur kaku dan bibir membisu.
Maka disaat itulah akan tersadar rupamu,cerdasmu & hartamu tak lagi berlaku sebagai alasan mngapa mencinta , selain hanya krnaNya.... ya karenaNya.  Dia yg mmberi & memiliki serta Dia pula yg menyatukn kembali dijannah yg Abadi jika menjadi hambaNya yg tahu diri yg kenal & taat pda Ilahi Robbi....

Allah itu Maha Cinta, Dia yg menggenggam setiap jiwa, Cinta yg ada disisiNya yg suci terbasuh RidhoNya hanya bisa dijemput dgn jalan Takwa.

"Dialog dengan Hati"

         Seberat apapun masalah, sesusah apapun ujian hidup & sesempit apapun keadaan ini adalah ketentuan Allah utk hamba-hambaNya. Apapun yg sedang dikeluhkan & takdirNya dirasa tak seirama dgn inginmu, Allah tetap saja Maha baik dari apapuuun... yg kita anggap paling baik. Sangking baiknya Allah , Allah perlakukan dirimu seakan-akan Allah tak punya hamba lain selain dirimu hanya saja kita tak jarang memperlakukan Allah seakan-akan punya Tuhan Selain DIA. Mulailah berhenti mengeluh pada SelainNya sebab itu hanya akan mngurangi rasa nikmat atas apa yg kau Punya.Bukankah setiap kita ingin mnjadi orang yg sabar? Dan  bukan sabar jika kesusahan masih diumbar.


_Dwi Ardy Prasadhana

Obrol-obrol Hikmah Menikah II





 Di sadur dari obrolan dengan seorang sahabat : "Saya menikah di umur 24 tahun, dan status masih pelajar. Sedangkan istri saya 18 tahun dan masih pelajar juga. Setiap hari sehabis makan selalu saja istriku mencuci gelas dan piring. Setiap mau berangkat shalat selalu saja istriku menyiapkan baju, dan parfum untuk pergi shalat. Tidak lupa pula rambut ku disisirnya (padahal pas shalat pake peci). Dia selalu rajin membersihkan rumah. Lalu saya bertanya kepada dia, " Putri kok tiap hari kaya gini, kita kan punya pembantu? Kamu kan bukan pembantu." Maka istriku menjawab " Putri nggak mau pahalanya di rebut pembantu". Masya Allah... benarlah sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ﺍَﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﻣَﺘَﺎﻉٌ ﻭَﺧَﻴْﺮُ ﻣَﺘَﺎﻉِ ﺍﻟﺪُّﻧْﻴَﺎ ﺍﻟْﻤَﺮْﺃَﺓُ ﺍﻟﺼَّﺎﻟِﺤَﺔُ . “Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita yang shalihah.” [Hadits shahih: Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1467), an-Nasa-i (VI/69), Ahmad (II/168), Ibnu Hibban (no. 4020 -at- Ta’liqaatul Hisaan) dan al-Baihaqi (VII/80) dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallaahu ‘anhuma.] Hal ini juga menjawab pertanyaan beberapa orang kepada saya, kok nggak pacaran dulu? kok berani sih langsung nikah? Nggak takut nanti sifatnya nggak cocok? Saya menjawab, seorang muslim yang ingin menikah cukuplah melihat ke solehan wanita tersebut yang nampak. Semakin pandai ilmu agama seorang muslim, maka akan semakin baik penilaianya terhadap seorang wanita. Segala sesuatu dalam pernikahan sudah di atur dalam syariat... setiap permasalahan rumah tangga, seperti harus bersikap bagaimana, harus melakukan apa ... semua sudah ada di dalam Al-Quran dan Hadist. Sedangkan sifat manusia haruslah berubah sesuai sifat yang di inginkan Allah dan Rasul-Nya. Apabila seorang pria dan wanita sama-sama memahami Al- Quran dan Hadist dengan baik, insya Allah mereka cocok. Hal ini juga membuktikan kebenaran islam. Membuktikan sempurnanya syariat islam. Dimana ketika orang lain mencoba mengenal pasanganya bertahun-tahun dengan pacaran, islam hanya membutuhkan tidak lebih dari beberapa hari atau maksimal 3 bulan. Ketika orang lain mencoba mencari solusi masalah rumah tangga dengan mecoba-coba berbagai hal, bayar ini bayar itu, curhat sini curhat situ,, seorang muslim cukup mencari solusinya dalam Al-quran dan hadist. Wallahu a'lam ------------------------- Qultu: Sederhana, namun sarat makna... Semoga Allah selalu menjagamu sobat...

Obrol-0brol hikmah Menikah

عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW  bersabda, “Hai parapemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampumenikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebihdapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjagakemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklahia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekangsyahwat”. [HR. Jamaah]
Ada kalanya, menyederhanakan persepsi adalah satu-satunya cara untuk memudahkan kita dalam melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah. Sebaliknya pula, merumitkan persepsi akan mendatangkan kesulitan dan kesukaran kita dalam melaksanakan perintah Allah dan sunnah Rasulullah pula. Lihatlah bagaimana Bani Israil merepotkan mereka sendiri bahkan sampai takaran menyusahkan seluruh anggota suku hanya karena merumitkan persepsi mereka akan perintah Allah. Tatkala Allah menyuruh mereka untuk mengorbankan Sapi Betina, maka yang ditanyakan oleh bani Israil adalah: bagaimanakah warna dan sifatnya, hakikatnya,umurnya, bentuk dan rupanya serta keutamaannya. padahal bila mereka menyembelih sapi betina mana saja ketika perintah itu turun, itu sudah cukup memenuhi perintah ALLAH. namun sayangnya mereka tidak berniat menyederhanakan perintah tersebut. Maka Allah memberatkan perintahnya kepada mereka dengan memberikan beberapa syarat spesifik yang hampir saja membuat mereka tidak mampu mencarikan sapi betina seperti itu. Itulah cara Allah menegur hambaNya yang merumitkan perintah Allah. Pun kondisi serupa saya dapatkan pada beberapa orang yang mendatangi saya untuk berkonsultasi masalah perintah dan sunnah Rasulullah yakni menikah. Sejatinya perintah dari Allah simple task; Menikahlah dengan yang taqwa dan beriman kepada Allah. Namun banyak diantara mereka merumitkan persepsi bertaqwa dan beriman tersebut. Maka mulailah mereka menambahkan sendiri kerumitan yang diluar persyaratan utama. Selayak sapi betina bani Israil, mereka memasukkan kriteria warna kulit, sifat, rambut, hakikat, umur, pendidikan, keturunan, suku, bahkan pekerjaan dan penghasilan bulanan. Maka hampir-hampir mereka senasib dengan bangsa Israil dimana mereka sulit melaksanakan perintah dan Sunnah Rasulullah. Nah, bila anda termasuk yang merumitkan persepsi menikah, hanya satu saran sederhana saya untuk anda. Sederhanakanlah! Janganlah persepsi anda membuat anda bersifat seperti keturunan Bani Israil yang Allah susahkan pilihannya karena persepsi mereka sendiri.

Berjodoh itu salah satu cara menilainya adalah di dekatkan takdir kita dengannya. dari tidak kenal lalu tanpa terduga menjadi kenal, dari tak berteman lalu akrab, dari jauh menjadi dekat, dari tidak peduli menjadi sudi. sayangnya banyak manusia tidak mengetahui hal ini hingga banyak yang terjebak dengan angan-angannya sendiri. maka jangan salahkan takdir bila jodoh belum berkait. boleh jadi kita sendiri tidak ingin menerima yang berada di dekat kita.

- Disadur dari mudzakarah dgn Ust.Rahmat Idris.



عَنِ ابْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اْلبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَاِنَّهُ اَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَ اَحْصَنُ لِلْفَرْجِ. وَ مَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَاِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ. الجماعة

Dari Ibnu Mas’ud, ia berkata : Rasulullah SAW  bersabda, “Hai parapemuda, barangsiapa diantara kamu yang sudah mampumenikah, maka nikahlah, karena sesungguhnya nikah itu lebihdapat menundukkan pandangan dan lebih dapat menjagakemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaklahia berpuasa, karena berpuasa itu baginya (menjadi) pengekangsyahwat”. [HR. Jamaah]

Sajak untuk Penyuka debat dan penolak perbedaan.


Jika perbedaan semakin kau asah menjadi runcing, sebaiknya bentangkan saja jarak sejauh mata memandang. Tak perduli ada sejuta harap di sana jika derap langkah tak seirama, apa gunanya peta menuju nirwana kita baca bersama ?!
Masihkah kau tetap tak mau memberi ruang untuk warna yang berbeda ? padahal dalam hidup kita tak hanya di lingkupi tiga warna bianglala, tak hanya hitam dan putih ada banyak warna yang tak bisa di hindari.

Seketika kau berubah memjadi teka teki tanpa kata kunci, aku tersesat dalam kotak-kotak hening yang membuatku pusing.
Kau mendadak menjadi rumit seumpama labirin tanpa jalan keluar, lantas jika kebuntuan yang kau benturkan buat apa kita berfikir keras mencari jalan keluar.
Aku rasa ini bukan hanya tentang yang kalah jadi abu atau yang menang jadi arang. Yang ku tahu bentangan luas samudera biru yang tanpa batas dan teramat dalam pun, tak pernah menolak rintik-rintik air hujan yang jatuh mengisinya. Lalu bagaimana mugkin cawan yang kosong menolak sejuknya air yang di tuangkan perlahan !?

Sebuah Cerpan "Bangku Taman"






*Bangku Taman*
oleh : Dwi Ardy prasadhana.

Perempuan tanpa nama :

Sunyi semakin lirih, di bangku
taman.Di bawah pohon perdu. Angin
berhembus memainkan ujung
kerudungku, desirnya seakan
bersenandung menghibur hati yang
mulai gelisah menanti. Selain
berada di bangku taman ini , aku merasa tak menunggu, ada kerabat yang memberi perhatian hangat atau sahabat yang menyemat semangat. Namun di bangku taman ini aku memilih sendiri lantas
barulah aku tersadar ternyata
bangku taman seakan menjadi bangku di ruang
tunggu, ya... tempat menunggu
daun-daun pohon perdu gugur jatuh
semoga aku sempat membaca sebuah nama yang tertulis dilembar daun yang luruh.
Sebuah nama yang tertulis
dilembar kalam takdirNya. Aku yakin ada yang lebih bijaksana daripada usia, dan dibangku taman kutemukan semua itu,
untuk menjadi dewasa mengamit hikmah dari ketukan waktu yang sudah semestinya
tak di biarkan terlewatkan percuma.
Satu lagi daun perdu gugur jatuh tepat di pangkuanku, bukan sebuah nama yang tertulis diatas lembarannya. Ada obat letih menanti tertulis di lembaran daun yang jatuh " Kau masih di beri kesempatan menperbaiki diri bersabarlah duduk menanti di bangku taman ini".

Lelaki tanpa nama :

  Di bangku taman ini waktu seakan melambat, bukan karena jam tanganku rusak dan putarannya menjadi tersendat. Mungkin bangku taman ini seakan menjadi kursi antrian,
dan aku harus menunggu antrian
sendirian, mugkin karena sendiri
sampai-sampai membuat perasaan
menunggu hingga rasanya waktu
melambat dan beku. Tapi
Sepertinya kali ini pilihan kata yang ku pakai keliru, sebab budaya antri lebih lazimnya menunggu giliran diantara orang banyak dengan berdesakan, tentu tak serupa dengan menunggu di ruang waktu. Namun lain halnya jika aku menunggu di bangku taman, entah ini tempat penantian atau tempat aku berlatih menjadi nahkoda yang kelak memimpin
kemudi sebuah perahu untuk
berlayar menuju syurgaNya, tentunya
bersama seseorang yang namanya tertulis di lembar kalam takdirNya.
Seorang Ibu paruh baya petugas
kebersihan taman datang dengan
membawa sapu . Ia mendekat pada
bangku taman yang jaraknya hanya
selemparan batu dari tempat
dudukku, bangku taman itu tepat di bawah pohon perdu. Aku berlari kecil
menghampiri, berharap daun perdu yang terakhir jatuh tak tersapu oleh si Ibu.Selembar daun yang jatuh segera kuraih sebelum luruh jatuh ke bumi. Ada abjab tersusun rapi : " Lelaki sejati tak membiarkan sepotong hati terlalu lama menanti.
Ia tak mengulur waktu dengan janji
tidak pula terburu-buru dengan
mengumbar bujuk dan rayu namun
ia datang tepat waktu."


Untuk Sepasang Senja Sederhana
Ada yang menyapaku disenja ini
Mengajarkan banyak hal dalam
kesedikitanku tentang dunia
Mengajarkan betapa tidak
menguntungkannya menjadi manusia topeng
Berdiri di kerdilnya kekuatan hati
Merampas jejak kita yang menitih asa
Akhirnya kelak terpatung juga jasadku
Kau yang seolah tak berdaya
Mampu memperdayai hatiku dengan sejuk nuranimu
Mengairinya dalam sukmamu
Mengairi hingga relung terdalam jiwaku
Kau yang seolah tidak berdaya
Ternyata menjadi jawaban-jawaban yang belum sempat aku pecahkan
Menjelaskan sesederhana mungkin tentang apa dan mengapa
Betapa bersyukurnya aku menjadi karibmu yang setia
Selain sebagai guru kamupun mampu memerankan jiwaku dengan lihai
Kamu atau aku nanti yang akan menyempurnakan kisah hidup ini
Jejakku aku liarkan sesederhana mungkin
Agar kita tidak tersesat kelak sebagai penganut paham sederhana ini

Sebuah puisi 'Jingga'

Seperti senja di kaki cakrawala tua
jingga, mempesona
setelahnya, melengkung bulan sabit di wajah langit malam
senja sirna
matahari perlahan pergi
malam kembali merajai bumi
senja perlahan berbayang
engkau pun memandang
dengan air mata di pelupuk
mengambang
Aku tertunduk meradang
seketika benak pikir mengenang
“Aku tak sudi dikekang, tak hirau
dikenang, aku ingin bebas terbang,”
Jinggaaa...Esok lekaslah kembali !
esok lekaslah kembali

Sebuah cerpen "Budi Bocah Karbitan"





Hikayat hidup bukan hanya tentang memasukkan makanan ke dalam mulut atau sekedar bekerja demi mendapat upah. Kita butuh perubahan kearah yang lebih baik, memberi manfaat untuk orang banyak. Peduli terhadap sesama adalah tanda bahwa masih hidupnya nurani di balik dada-dada kita. Lampu merah yang ada di perempatan kota, apa yang kita pikirkan?. Pastinya warna merah tanda untukberhenti. Warna kuning bersiap untuk jalan. Warna hijau untuk segera melanjutkan perjalanan. Tetapi lain hal nya dengan Budi, untuk lampu warna merah, justru ia berjalan menghampiri pengendara d iperempatan kota menawarkan dagangannya. Warna kuning pertanda bersiap untuk berhenti, Warna hijau pertanda ia harus benar-benar berada di tepi jalan dan berhenti menjajakan barang dagangannya. Sangat bertolak belakang dengan para pengendara di jalan, Aku yakin kita pernah menyaksikan ini di jalanan.

Siang itu panas mentari sangat terik. Deru mesin kendaraan, bau debu jalanan siap merusak paru-paru siapa saja menghirupnya. Aku berjalan di trotoar menuju masjid. Alunan syahdu kumandang adzan mengundangku kerumahNya. Bukan hanya aku, tapi semua manusia yang didadanya ada kalimat Laailaahailallah maka wajib memenuhi panggilanNya untuk menunaikan sholat dzuhur. Selepas sholat berjama'ah. Seperti biasa aku melepas penat di teras masjid yang sejuk. Masjid bukan sekedar untuk berteduh dari panas atau hujan, namun juga tempat hati untuk berteduh sebagai pelepas kepenatan.

Di sini berawal perkenalanku dengan Budi, bocah yang umurnya sekitar sepuluh tahun. Diantara deru kendaraan yang lalu-lalang di jalan depan masjid, terdengar gemercik air keran di tempat wudhu. Aku menoleh ke arah suara itu. Hanya beberapa meter dari tempat aku duduk, terlihat seorang bocah, dengan kaos lusuh yang dikenakannya. Wajahnya tergurat lelah dan kumal sebab debu jalanan. Wajah itu kembali segar setelah dibasuh sejuknya air wudhu.

“Assalaamualaikum..” Salam sapaku padanya.

“Wa’alaikumsalam.” balasnya sambil melempar senyum ke arahku.

Dia menuju ke dalam masjid untuk menunaikan sholat dzuhur, hanya sendiri sebab sholat berjama'ah telah selesai beberapa menit yang lalu. Ia pun keluar dari ruang utama masjid, aku kembali membuka percakapan.

“Adik, tinggal dimana?”

“Dari jalan itu terus aja, Bang. Ada rumah kontrakan kecil disitu. Rumah kedua itu rumahku.” Jawabnya dengan logat batak, sambil menunjuk ke arah jalan kecil di sebelah kanan masjid.

“Oh, ya. Namamu siapa?” sembari ku geser dudukku tepat di sebelahnya.

“Budi, Bang. " Kali ini dia tak memandangku, sibuk merapikan barang dagangan yang akan kembali dijajakannya.

Kami bercerita banyak hal siang itu. Aku yang lebih banyak bertanya padanya. Ia hanya sesekali bertanya dan lebih banyak menjawab pertanyaanku. Ketika aku bertanya tentang sekolahnya, ia langsung terdiam. Matanya memandang jauh seakan mengingat sesuatu.

“Aku dulu putus sekolah kelas 4 SD Bang. Beberapa bulan setelah bapakmeninggal, Mamak tak bisa lagi membiayaiku dan adikku sekolah. Kadang aku jadi pedagang asongan, dapat upah dari yang punya barang dagangan ini. Kalau ada kawan yang mengajakku ngamen, ya aku ngamen Bang. Mamak tukang cuci baju dari rumah kerumah. Tapi aku mau adikku bisa tetap sekolah. Makanya sekarang aku kerja apa saja yang aku mampu, untuk bantu biaya adik lanjut sekolah.”

"Adikmu kelas berapa ?"
"Sekarang baru naik kelas 2 bang" ujarnya padaku.

Pandangannya masih menerawang jauh, aku tak tahu pasti apa yang dipikirkannya. Lewat cara ia bertutur tak menunjukkan bahwa usianya masih sepuluh tahun.


***

Angin siang itu mengajak pelepah-pelepah pohon palem berdansa mendayu terhuyung. Suara klakson bersahutan di tengah kemacetan. Seolah tiba-tiba menawarkan irama orkestra yang membuat angin dan pelepah-pelepah pohon palem ditepi jalan terus menari mendayu. Bocah kecil itu , kulihat dari kejauhan. Hilir mudik di tengah kemacetan. Dengan beberapa teman, yang senasib dengannya. Bocah itu Budi, yang kemarin sempat meninggalkan kesan di hatiku hingga hari ini. Beberapa pengendara sempat menghardiknya, ia mengamen di tengah kemacetan. Hardikan itu dibalasnya dengan senyuman. Senyuman itu tak semanis tadi, saat pengendara lain mengeluarkan uang recehan mengisi kantong pelastik yang ia sodorkan. Tapi tetap saja senyum itu berwarna ketulusan. Tak berubah, tetap warna yang sama.Ceria.

Aku berencana, jam makan siang nanti aku ingin mengajaknya makan bersama, walaupun hanya nasi bungkus. Aku ingin mengajak ia makan di teras masjid yang sejuk, tempat kemarin kami berkenalan. Tapi ia tak kunjung datang padahal jama'ah shalat dzuhur sudah bepergian. Terdengar suara gemercik air keran, aku menoleh ke arah tempat wudhu. Sayangnya bukan Budi. Bukan suara gemercik air yang berjatuhan dari wajah kumalnya. Mungkin musafir yang bersinggah untuk menghadiri undanganNya, pikirku dalam diam. Lapar mulai melilit lambungku, kupandangi dua bungkus nasi padang di sebelahku. Tapi ini akan kunikmati bersama Budi, lebih ada rasa syukur jika makan bersamanya.

Aku teringat, jalan kecil di sebelah kanan masjid, masuk ke dalam, disana rumah kontrakan kecil rumah yang kedua adalah rumahku, ucap Budi kemarin. Setelah mencari-cari akhirnya aku berdiri tepat di depan pintu yang keropos disantap rayap sebelah bawahnya. Ini mungkin rumah tempat keluarga Budi mengontrak. Beberapa kali aku mengucap salam akhirnya ada suara membalas dari dalam. Pasti suara Budi pikirku. Daun pintu yang sudah mulai keropos itu terbuka. Kulihat wajahnya tak ada keceriaan, layaknya orang yang menyambut tamu. Kali ini wajahya lebih menunjukkan kecemasan.

“Tadi kau tak ke masjid, dik?”

“Aku tadi shalat di musholla sini, Bang, Aku buru-buru pulang karena Mamakku mendadak sakit. Abang masuklah dulu.”

Tampak seorang wanita separuh baya, tergolek lemas di kasur yang sudah terlihat dekil. Tatapannya, tatapan menahan sakit. Matanya cekung ke dalam, padahal usianya belum lanjut namun kulit legamnya telah keriput.

“Mamak sakit apa, dik?”

“Aku tak tahu, Bang. Selama ini Mamak sudah sakit, tapi masih sanggup untuk kerja. Tapi tadi ia bilang sudah tak sanggup lagi.”

“Oh, ya. Abang bawa nasi, kau sudah makan belum? Makanlah ini, ajak Mamakmu juga.” sambil kusodorkan bungkusan yang kubawa sembari tersenyum ke arah wanita separuh baya itu.

Tangan kecil itu mulai menyuapi ibunya, menyuapi seorang janda beranak dua yang ditinggal mati suaminya. Entah kenapa menyaksikan hal ini, mendadak lilitan lapar di lambungku berlepasan.

Sebenarnya sakit ibunya kambuh sebab tak lagi meminum obat yang biasa dikonsumsinya. Karena uang yang mestinya untuk beli obat, dipakai untuk menambah beli sepatu sekolah adiknya. Begitu Budi menjelaskan padaku sambil makan dan menyuapi ibunya. Kuminta bekas bungkus obat ibunya, segera aku pamit membeli obat di apotek terdekat.

Saat aku kembali dari apotek, seorang gadis kecil telah ada di rumah Budi. Matanya menatapku penasaran. Rambutnya ikal, senyumnya mirip seperti Budi. Aku tak berlama-lama, karena takut mengganggu istirahat ibunya. Setelah bungkusan obat itu kuberikan pada Budi, aku segera pamit pulang.

“Kalau ada apa-apa sama Mamak, kau bilang aja sama abang, ya !” Budi hanya membalas dengan anggukan, sambil mengucap terimakasih padaku. Seharusnya aku yang berterima kasih pada, hari ini pertunjukan nasib hidupnya membuat aku malu sebab seringkali mengeluh.


***

Siang ini di teras masjid sejuk itu yang menjadi tempat hati berteduh. Aku sempat bercengkrama lagi pada Budi. Kondisi ibunya kini telah membaik. Kabar gembira ini disampaikannya padaku dengan wajah sumringah. Pertemuan kami sangat singkat kali ini. Sebab dia harus menjajakan dagangannya. Ia terpaksa harus pecahkan batu-batu keras keadaan, dengan lemah jemari kecilnya mengepal. Terus ku pandangi langkahnya yang semakin hilang. Kurasa ia menuju lampu merah di perempatan jalan. Keaadaan yang memaksanya, memaksa menjadi matang menjalani kehidupan. Seumpama pisang mentah karbitan yang dipaksa agar matang.

Ia tak tahu menjelaskan tentang ketulusan, namun hardikan orang-orang yang dibalasnya dengan senyuman. Disana kulihat jelas ketulusan itu bermekaran. Dia tak tahu untuk menjelaskan tentang kesabaran, namun ia sedang melakoninya dalam kehidupan.

Matanya sayu memandang jauh,dari guratan wajahnya yang kumal tampak jelas keletihannya yang setiap hari harus berkelahi dengan waktu. Banyak mimpinya yang tak terbeli. Semenjak janji manis menjadi barang dagangan yang laris di negri ini. Semakin banyak saja bocah yang bernasib seperti si Budi. Bukan sebab tak ada lagi orang yang mampu memberi, namun sebab matinya nurani, hilang jua rasa peduli.


  S E L E S A I

Jumat, 09 Mei 2014

Gadis Dalam Penantian (PUISI)


Desir angin lembut mendayu

ranting terayun bayu mengalun

ilalang terhembus terhuyung

Lelah sirna lepas penat dari jiwa terobati titik embun dipagi yang basah kau yang gemari irama alam lantas menjadikannya larik-larik puisi 
Kau... bersemangat dgn pagi

berani berjingkat di bawah terik mentari

bersungguh-sungguh merapal do'a dalam tenang pekat malam
bibir merapal tali kasih padaNya untuk si tuan tanpa nama yang masih kau nanti dgn sederet tanda tanya di kepala sambari menerka siapa gerangan yang kelak menjemputmu dengan kereta kencana.

PROLOG sebuah cerpen

 
PROLOG :
  Serangan zionis Israel yang membabi buta delapan hari berturut-turut membombardir tapal batas Gaza. Kini menyisakan puing-puing reruntuhan, benteng utama yang menjadi andalan pertahanan pun telah luluh lantah. Desing peluru, bau mesiu dan suara gemuruh dentuman rudal kendali pun bergema di seantereo perbatasan Israel - Palestina. Tangisan anak-anak yatim para syuhada, airmata janda-janda para mujahid palestina, para pemuda yang siap maju ke medan laga memekik menyerukan takbir tak henti-hentinya. Senyuman para suhada telah membeku, sesaat pesawat tempur zionis menjatuhi rudal di tanah para Nabi, teduh wajah mereka dengan jasad rusak terbaring kaku, membisu.

Rabi'ah Sa'adah istri dari salah seorang mujahid yang sedang berjuang di Gaza, ia adalah wanita muda diantara ratusan pengungsi yang berkemah di perbatasan Rafah. Tapal batas antara Mesir dan Palestina. Tiga puluh lima kilo meter dari kota El-Arish. Perjalanan dari kota El-Arish menuju Rafah harus melintasi gurun pasir di padang sinai yang membentang sejauh pandangan mata. Jarak yang cukup jauh dari Gaza, perbatasan Rafah satu-satunya tempat yang aman bagi pengungsi yang berhasil lolos dari kekezaman zionis-zionis Israel yang menyerang tanpa pandang usia.


Sementara di Gaza, perang masih meradang. Serangan zionis terus menggempur dengan Rudal kendali yang meluncur menghantam pertahanan para pejuang Palestina. Ahmad Khalid, seorang lelaki muda yang baru tiga bulan menikah. Dia adalah salah seorang diantara ratusan mujahid yang berani mati untuk berjuang demi mempertahankan tanah para Nabi dari jajahan para tentara Yahudi. Kali ini dia mendapat misi untuk memasang rancau darat di jalan-jalan yang dilalui tank-tank besi yang siap memuntahkan rudal ke benteng pertahanan. Dia hanya punya dua pilihan, misi berhasil dan selamat sebagai pemberani, atau menjemput syahid dengan langkah yang tak gentar.

Bersambung....
oleh Dwi Ardy Prasadhana

Tentang Kita Kawan

" Selepas ini aku tau kau akan
pergi... jika aku bukan tempatmu
pulang , sudah pasti kau tak akan
kembali disini dimana dulu aku, kau
& yang lain selalu bermain... masa
itu cerita beberapa tahun yg lalu...
mungkin saat ini kita semua punya
kesibukan hidup sendiri-Sendiri
kuliah,kerja,atau apalah utk mengikat
tali-tali harapan itu, tidak seperti
dulu hidup kita hanya utk sekolah,
bermain bola,berlari, bermain,
bercanda & tertawa.
Tapi yg paling berkesan ketika kita
berlari kecil menuju surau utk belajar
mengaji selepas shalat maggrib
berjama'ah...
Aku rindu saat itu... saat memakai
sarung pun kita saling bantu, saat
kita semua diam terpaku menatap
wajah guru ngaji kita yg bercerita
tentang kisah para Nabi...
tapi kawan... kenapa sekarang seolah
mesjid & surau mnjadi tempat asing
bagimu...
apa kampus sudah mengikatmu ? tapi
aku melihat disanapun ada musholla
utk hati berteduh...
atau kesibukan kantormu menyita
waktu ? tapi aku rasa utk ngumpul
dikantin kau punya bnyak waktu...
apa deru mesin pabrik membuatmu
tak dengar kumandang adzan ? tapi
kurasa jam dinding ditempat kerjamu
ckup besar & jelas menunjukkan
sudah masuk waktu sholat & saatnya
mnghadap Rabbmu...
Entahlah...
Kurasa ini jelas-jelas salahku sebab
terlambat mengingatknmu bahwa
masa kecil kita didik utk agama & saat ini mestinya agama wujud dlm kehidupan kita...

*sepotong inspirasi dari perjalanan menuju Nirwana.

Tentang Hujan

"Hujan kali ini sebuah kejutan bagi kemarau panjang. Koloni tirta berjatuhan menyerbu debu di atas tanah kerontang.
Suara jatuhnya di atas atap menjadi suara merdu pengobat jiwa para perindumu (hujan).
Hujan kali ini menjadi hiasan di atas langit mimpi. Jedanya mengundang awan datang dengan jumawa, melukis dengan tiga warna cerah bianglala.
Hujan kali ini membawa penawar untuk jiwa-jiwa yang lelah, yang berlari-lari, yang tertatih-tatih menuju nirwana."
"INGIN aku bertanya pada jiwa manusia. Masihkah nurani menyala, tersentuh memandang mereka yang kumal di jalan-jalan kota !?
Atau malah kelindan tumpukan materi membuat lisan kaku bertegur sapa dengan mereka ? Mereka yang tesengal sembari merapal tabah. Mereka yang berpeluh tiada maksud untuk kaya, namun sekedar mencari sesuap nasi agar tidur tak menahan lambung perih. Robbi... mudahkan kami lepas dari gemerlap duniawi, agar angkuh tiada meninggi & nurani hidup kembali."
"Masih terbata mengeja cinta,namun
sudah terlampau banyak hati yg kau
jajah. Dengan janji,dengan
senyum,dengan gelimang harta. Kau
berhasil menebar jaring fitnah. Cinta
bukan kembang gula yang bisa kau
bagi-bagi lalu habis bercampur
ludah."

''Syair Kepergian Nabi "


Syair Kepergian Nabi


Senja itu, di keheningan padang Arafah yang gersang, di desa sepi bernama Namira, Rasul Allah masih saja duduk diatas ontanya Al-Qaswa, memandang umatnya menuju tebing-tebing dan perbukitan. Dalam diam dan kebisuan, angin masih saja bertiup semilir seolah ikut menghantar mereka pulang. Sesekali langkah mereka terhenti dan menoleh ke belakang, seperti tak ingin lepas dari wajah bening Rasul Allah diatas pelana ontanya.

“Ayyuhan nas isma’u qauli, dengarlah kata-kataku, aku tidak tahu apakah setelah hari ini, setelah hari yang suci ini, aku masih bisa bertemu dengan kalian semua. Ingatlah wahai saudaraku, aku tinggalkan kalian dua amanat. Jika kalian pegang erat, kalian pasti selamat dan tak akan tersesat, kitabullah dan sunah Rasul Allah"

Suara sendu di perbukitan itu seolah pertanda, seakan firasat. Dari kejauhan, diatas ontanya Al-Qaswa, Rasul Allah masih saja memandang umatnya, seakan berat melepas kepergian mereka. Sahabat dan pengikutnya perlahan surut dan kemudian pulang kembali ke rumahnya. Abu bakar yang arif tersedu menangis menitikan air mata. Hatinya berdesah dan berbisik, Ya Rasul Allah, benarkah kita tidak akan bertemu lagi?.

Pada suatu malam di padang Baqi, di pekuburan para syahid yang sepi, isyarat dan pertanda itu ditiupkan kembali. Kemudian terdengar suara Rasul Allah lirih,
“Salam sejahtera wahai kalian penghuni kubur. Ingatlah, hari akhir lebih berat pembalasannya dari pada di dunia. Wahai engkau yang sedang terbaring di tanah ini, kami pasti akan bersua dan menyusul kalian disana”

Di hamparan makam Baqi, tanda-tanda itu telah dinampakkan lagi. Demam dan keletihan mulai membalut tubuh Rasul Allah, manusia pilihan tuhan. Dengan berikat kain dikepala, Rasul Allah tertatih-tatih berjalan perlahan, bertopang pada Ali bin Abi Thalib, dituntun oleh Al-Abbas menuju rumah Aisyah. Di pembaringan, tubuh manusia Agung itu panasnya semakin memuncak dan keringat mulai mengucur membasahi wajah dan jubahnya. Di pangkuan Aisyah, Rasul Allah menyandarkan kepalanya. Kemudian terdengar desah suaranya yang lirih bergetar,
“Wahai Aisyah, ketahuilah bahwa malaikat pencabut nyawa telah datang dan berbisik padaku Ya Rasul, Allah Azza wa jalla telah mengutusku dan menyuruhku agar tidak mencabut ruhmu kecuali dengan izinmu. Ya Rasullullah, aku menunggu perintahmu "

 "Tunggulah, tunggulah sampai jibrildatang padaku” pintanya perlahan.
Tak lama kemudian, dalam keheningan bersama desiran angin padang pasir, Jibril datang dihadapan. Suasana terasa demikian syahdu dan semakin mencekam.
“Ya Muhammad, sesungguhnya Allah telah rindu kepadamu.”

“ Wahai Jibril, jangan tinggalkan tempat ini. Temanilah aku saat izrail hendak mencabut ruhku”

Angin padang pasir seakan berhenti bertiup dan memberi tanda duka. Awan seakan memayungi rumah Aisyah yang begitu sederhana. Fatimah, putri kesayangan mencium Ayahanda-nya yang terbaring kelelahan. Wajahnya memendam duka dan kesedihan yang kian mendalam. Dengan perlahan Rasul Allah meraih wajah putri terkasihnya itu, dibisikkannya lagi sesuatu yang membuat ia tersenyum terharu.
“Wahai putri kesayangan Rasul, Apa gerangan yang terjadi?”

“Aku sedih, aku menangis dan menitikan airmata karena ayahanda mengatakan akan kembali kepada Tuhannya. Aku tersenyum karena dibisikkan bahwa akulah yang pertama yang akan menyusul ayahanda”

Di pembaringan, lelaki Agung itu masih saja menegadahkan wajahnya kelangit. Kemudian terdengar suara lirih setengah barbisik, “UMMATI, UMATTI, YA RABB UMATTI"

Dengan wajah memendam duka, Aisyah menarik tubuh lunglai itu kepangkuannya. Dalam keletihan, Rasul Allah membasuh tangannya dan kemudian mengusapkan air ke wajahnya. Diantara desah nafas yang tersendat terdengar doanya lirih,

“Ya Allah, ampunilah dosaku, Rahmatilah aku, pertemukan aku bersama orang yang Engkau beri nikmat, para nabi, Shadikin, Syuhada dan Shalihin. Ya Allah, Ampunilah dosaku, Ampunilah dosaku”

Doa itu semakin lirih dan semakin lirih. Tangan manusia yang Agung yang terkulai itu kian lunglai. Izrail perlahan mendekatinya dan mengucapka salam kepada manusia Agung pilihan Tuhan itu,
“Apa yang engkau perintahkan padaku wahai Muhammad?"

Tersengar suara yang semakin lirih berbisik, “ Al-hiqni bi robbil’an, Al-hiqni birobbil’an! " Pertemukan aku dengan tuhanku sekarang juga, sekarang juga!

Isyarat dan tanda itu semakin mendekat. Diantara keletihan dan kesedihannya, Rasul Allah memandang sendu wajah sahabat-sahabat dan kerabatnya. Dan kemudian bersabda,
" Marhaban bikum, Selamat datang untukmu sekalian. Mudah-mudahan Allah selalu melindungimu dan menolongmu. Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata dari pada-Nya untuk kalian. Ajal telah semakin mendekat dan kembali itu hanya pada Allah, kemudian ke sidratil Muntaha, kemudian ke syurga Al-Ma’wa. "

Manusia Agung yang sedang terbaring keletihan itu seakan tidak rela umatnya kelak akan mendapat nestapa dan tidak ikut melangkah ke syurga bersamanya.
“Wahai Jibril” bisiknya, “Siapkan juga bagi umatku, Sesudahku”

Kemudian, saat Izrail akam mencabut ruhnya, masih juga kekasih Allah itu bertanya kepada Izrail,
“Ya Izrail, Akankah umatku akan mengalami sakitnya sakaratul maut seperti ini?”

Diantara desah nafas yang tersendat, Rasulullah menegadah bermohon lagi kepada Allah,
“Ya Allah, biarlah aku yang merasakan seluruh kepedihan saat sakaratul maut ini Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku. Ringankanlah sakaratul maut untuku matku. Ringankanlah sakaratul maut untuk umatku, Ya Allah”

Allah segera menjawab pinta doaRasullullah, kekasih-Nya yang gelisah memikirkan umatnya,
“Berilah kabar yang gembira kepada kekasih-KU itu, ya Jibril. Bahwa aku tidak akan menelantarkannya. Aku tidak akan menyengsarakannya. Dan bahwa syurga itu diharamkan atas umat-umat yang lain, sebelum umatnya memasuki syurgaku”

Mendengar janji Allah, cahaya mata yang bening itu kemudian pejam, tertidur dalam keheningan. Dan dalam keabadian untuk selamanya. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun.
Pesan Rasulullah, “Uushiikum bis shalati wa maamalakat aimanuku. Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu.”

Untukmu duhai Nabi, Kami Rinduuuu.

Kamis, 08 Mei 2014

Untukmu Wanita Cahaya


Bismillah....

Aku tak pernah punya sapu tangan untuk sekedar mengeringkan keringatmu atau untuk menghapus airmatamu.

Tapi kau, saat tangis ku pecah di tengah malam pun, kau dekap aku denga pandangan bercahaya. Tak hanya airmata-ku yang kau hapus dengan lembut punggung tanganmu, senyummu pun selalu berhasil merawat jiwaku.

Banyak petuah yang berkisah tentang malaikat-malakait yang menjadi pesuruhNya (Allah).

Dan kau, adalah malaikat pertama. Yang mengenalkanku pada cintaNya, mengajarkanku berbincang padaNya. Lewat ucapan do'a, yang kala itu bibirku yang masih belia terbata merapalnya.

Wajah-mu memang tak selalu teduh, terkadang ada lintasan kelabu yang membias warna sendu. Tapi hatimu, selalu khusyu mendekap tabah di bilik-bilik dadamu yang berlapis do'a.

Maaf ku haturkan padamu, jika terkadang suaraku meninggi pongah di hadapanmu. Aku sedang terlupa dulu suara lembutmu yang bersenandung mengantarkan tidurku.

Maaf ku haturkan padamu. Jika aku pernah menatap tajam ke arahmu. Aku terlupa, dulu tatapanmu yang bercahaya yang menunjuki-ku mana benar, mana salah.

Maaf kuhaturkan padamu. Jika aku perna membantah perintah yang kau titah. Aku terlupa, ada peluh dan darah, saat kau berjuang demi lahirku ke dunia.

Aku berkisah tentangmu Ibu, yang dengan air susumu aku tumbuh. Dengan nasihatmu aku berguru.

Jika tiba masanya, senja usia menyandarkanmu pada lelah, kurasa aku tak akan sanggup membalas jasa.

Sekalipun dengan gunung permata atau gedung-gedung penuh harta. Sebab semua itu tak ada yang setara untuk membalasnya.

"Untukmu wanita cahaya, yang di telapak kakimu bertempat syurgaNya."

''Siapapun kita hari ini & apapun pengakuan kita saat ini... Kelak akan ada masanya, dimana kita dihadapkn pada Keadaan yg tak pernah kita harapkn atau mungkin sangat tidak kita inginkan... & keadaan adalah pemaksa terhebat yg menunjukkn siapa jati diri kita sebenarnya, jika Iman yakin yg benar itu tertanam daalm diri. Maka sifat Iman itu sejuk, sekalipun diletakkn ditempat yg sangat panas & Iman itu tetap manis, walaupun dicampurkn dgn rasa pahit... hakikat Iman tdk terkesan dgn suasana & Keadaan, namun memberi kesan dalam setiap suasana dan keadaan.''

Surat Untuk Ibu



Ibu aku dulu pergi , utk mencari dunia...
Tpi besok aku pergi utk mngeluarkn dunia dari dlm hatiku, sbb dunia cukup ada pda gengamanku...


Ibu dulu aku pergi, utk mencari harta...
Tapi besok aku berangkat utk korbankn harta utk agama...

Ibu dulu aku pergi, tk hnya sebulan 2 bulan tpi bertahun-tahun, utk belajar bgaimana mengusahakn harta & dunia, tpi kini aku hnya pergi 40 hari saja dari 365 hari yg ada dlm setahun yg kau punya...

utk belajar perkara yg besar, bhkan lebih besar dari dunia & seisinya, utk usahkan iman & amal sholeh agar wujud dlm diri kita...
Bgaimna agar agama masuk kedalam rumah kita, hingga masuk kedalam hati-hati kita...

Rasulullah Saw telah beritahu, bahwa keluarga yg ditinggal keluar dijalan Allah mka 70.000 malaikat yg akn menjaga, bahkan bukan hnya para malaikat, Rabbnya para malaikat pun bersama mereka....

1 orang yg memiliki kuda yg ia rawat , ia pelihara lalu digunakan utk jihad fii sabilillah, maka semua akn ditimbang bahkn kotorannya pun ditimbang menjadi kebaikn.
Apalagilah jk seorang anak yg Ibu pelihara dari kandungan, lahirkn & ibu rawat hingga besar , lalu ibu gunakan utk bantu Agama Allah. Maka kelak diakhirat akn Allah pkaikn mahkota dari cahaya yg lebih terang dari matahari...

Satu riwayat mnyebutkn, ketika Rasulullah Saw & para sahabat hendak berangkat kemedan perang. mka datang seorang Sahabiyah smbil mnggendong anak dtang kpda Rasulullah : Ya Rusulullah... bawalah anakku ini beserta pasukanmu"
lalu Nabi Saw ktakan : "apa yg dpat dilakukan anak yg masih merah separti ini ?
lalu ia mnjawab : " jk nanti senjata musuh diarahkn padamu ya Rasululluh jdikanlah anakku ini sbgai tameng utk perisaimu"
Allahu'Akbar....
begitu besar kecintaan kpda agama ini sehingga ia korbankn yg tk mesti & Rasulullah saw tk mungkin mengizinknnya...

tpi iman kita lemah Ibu tk sehebat Iman para sahabat, mka utk itu kita usaha atas iman...
dgn korban walau hnya sedikit & kecil sekali

Dgn mulut ini, mulut yg dulu ibu ajarkn dgn lembut utk dpt berbicara mesti masih terbata-bata, lalu setelah fasih bicara dipakai ajak manusia pda kebaikn, ajak manusia pd Allah & RasulNya...

Dgn kaki ini, kaki kecil yg dulu ibu ajarkn utk tegak & mampu melangkah, kini langkah -langkah ini utk mnyebar mnjadi asbab hidayah utk umat seluruh alam...

Dgn tangan ini, tangan kecil yg dulu ibu ajarkn bagaimna menengadah utk berdo'a meminta pda Allah ta'ala, kini dipakai utk berdo'a agar Allah kekalkn hidayah dlm diri kita, keluarga kita & umat seluruh alam...

Aku tau, Ibu tak setegar Maisyitoh yg relakan seluruh keluarganya utk berkorban bntu agama Allah, hingga Nabi Saw mncium keharuman yg sangat dari pusaranya....
Namun sudah mnjadi ketetapan, utk menambah kecintaan pda agama mestilah dgn pengorbanan...
Dan aku hnya mampu dgn pngorbanan kecil ini..

Dulu aku bertahun_tahun tk pulang utk usahakn dunia & ibu mampu utk kutinggal...
Tpi kini hanya 40 kali sarapan pagi saja, aku tk memakan masakanmu utk berangkt pergi usahkn ilmu & iman utk islah diri , aku yakin kau pasti mampu Ibu...

Ibu ridhomu adlh kendaraan utama dlm perjalananku nnti, aku tk minta bekal apapun darimu, yg ku minta kau sebut namaku dlm setiap do'amu... Aku pergi utk belajar, utk tdk mnyusahknmu, bagaimna agar bisa berkhidmat pdmu dgn lembut & kasih sayang, bagaimna agar bisa berakhlak pdmu dgn kesantunan
Utk belajar perkara Ilmu agama & adab-adab Sunnah baginda Nabi saw utk Modal mnjadikn rumah sebagai madrasah...

Ibu aku sayang pdamu, krna itu aku pilih jalan ini, jln mereka para kekasihaNya yg telah berhasil menjadikan wktu yg sebentar didunia , digunakn utk usahkn bekal utk kehidupan yg kekal (akhirat)....

Yakinlaah... Anakmu ini akn baik-baik saja, Allah yg mnjaga seluruh makhluk dilangit & dibumi...
Lalu apa susahnya bagi Allah utk mnjaga 1 orang anakmu ini Ibu...
& aku yakin Allah yg akan menjagamu...



Allah swt berfirman:
ْﻞُﻗ ْﻥِﺇ َﻥﺎَﻛ ْﻢُﻛُﺅﺎَﺑﺍَﺀ ْﻢُﻛُﺅﺎَﻨْﺑَﺃَﻭ ْﻢُﻜُﻧﺍَﻮْﺧِﺇَﻭ
ْﻢُﻜُﺟﺍَﻭْﺯَﺃَﻭ ٌﻝﺍَﻮْﻣَﺃَﻭ ْﻢُﻜُﺗَﺮﻴِﺸَﻋَﻭ ﺍَﻩﻮُﻤُﺘْﻓَﺮَﺘْﻗﺍ
ٌﺓَﺭﺎَﺠِﺗَﻭ َﻥْﻮَﺸْﺨَﺗ ﺎَﻫَﺩﺎَﺴَﻛ ُﻦِﻛﺎَﺴَﻣَﻭ ﺎَﻬَﻧْﻮَﺿْﺮَﺗ
َّﺐَﺣَﺃ ْﻢُﻜْﻴَﻟِﺇ َﻦِﻣ ِﻪَّﻠﻟﺍ ِﻪِﻟﻮُﺳَﺭَﻭ ٍﺩﺎَﻬِﺟَﻭ ﻲِﻓ
ِﻪِﻠﻴِﺒَﺳ ﺍﻮُﺼَّﺑَﺮَﺘَﻓ َﻲِﺗْﺄَﻳ ﻰَّﺘَﺣ ُﻪَّﻠﻟﺍ ِﻩِﺮْﻣَﺄِﺑ ُﻪَّﻠﻟﺍَﻭ
ﺎَﻟ ﻱِﺪْﻬَﻳ َﻡْﻮَﻘْﻟﺍ َﻦﻴِﻘِﺳﺎَﻔْﻟﺍ
“Katakanlah: “Jika bapa-
bapa, anak-anak, saudara-
saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta
kekayaan yang kamu
usahakan, perniagaan yang
kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-
rumah tempat tinggal yang
kamu sukai, adalah lebih
kamu cintai daripada Allah
dan Rasul-Nya dan (dari)
berjihad di jalan-Nya, maka
tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-
Nya.” Dan Allah tidak
memberi petunjuk kepada
orang-orang fasik.” [at-
Taubah:24]